Variasi Pola Kalimat

Latar Belakang
Sejumlah materi penting pembelajaran kalimat dalam pertimbangan standar kompetensi mesti dikuasai pembelajar bahasa. Beberapa materi itu diperas dari kompetensi kebahasaan yang mesti dikuasai pembelajar; di antaranya (1) penguasaan kalimat aktif-pasif, (2) penguasaan kalimat berdasarkkan kategori predikat, (3) penguasaan pola kalimat, (4) kalimat majemuk.

Penguasaan (mastery) pelajaran kalimat berdasar pada keempat pembagian di atas menjadi sangat ampuh untuk memahami bahasa Indonesia. Tentu saja penguasaan itu bukan tanpa syarat dan tanpa kekurangan karena penguasaan morfologi menjadi syarat pemahaman pelajaran kalimat dan penguasaan semantik menjadi pelengkap bagi penguasaan kalimat itu.

Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kampus Sumedang adalah bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang merupakan lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). Program PGSD sesuai namanya merupakan institusi yang bertugas menelurkan pengajar di tingkat sekolah dasar. Dari segi jenjang, program PGSD selama ini menelurkan lulusan ahli muda (diploma dua) sesuai dengan kebutuhan pengajar di sekolah dasar dan mulai tahun 2006 ditingkatkan menjadi asisten ahli madya (sarjana strata satu) untuk meningkatkan kualitasnya.

Penguasaan kalimat yang diajarkan di kampus Sumedang merupakan pelajaran yang relevan dengan uraian Badudu (1990) dan Ramlan (1981). Chomsky (dalam Chaer, 1994) mengungkapkan bahwa tata bahasa memang dikembangkan untuk membantu pembelajar memahai bahasa. Demikianlah falsafah bahasa yang sejak dahulu berkembang di tangan Plato dan Aristoteles. Tata bahasa dikembangkan untuk memudahkan pembelajar dalam memahami bahasa.

Penguasaan kalimat bagi pengajar di sekolah dasar merupakan penguasaan yang penting untuk dimiliki. Penguasaan kalimat merupakan salah satu standar kompeteni pembelajar. Di setiap tingkat pengajaran kaimat disampaikan sesuai dengan taraf perkembangan pembelajarnya. Acap kali kurangnya kemampuan penguasaan kalimat menjadi penyebab rusaknya “pemahaman” pembelajar berkenaan dengan bahasa Indonesia. Lebih lanjut pengaruh rusaknya “pemahaman” pembelajar itu berdampak pada keterampilan lainnya seperti berbicara dan menulis. Dengan kata lain, pemahaman kalimat akan membantu pengajar menyampaikan materi di kelas rendah dan di kelas tinggi.

Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua taraf. Taraf pertama berkenaan dengan tingkat hubungan antara pengujian kalimat dengan teknik klos dan pemahaman pola. Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) pengujian kalimat dengan teknik klos dan (2) pengujian pemahaman pola. Taraf kedua penelitian variasi pola kalimat ini berkenaan dengan teknik pengajaran kalimat di PGSD UPI Kampus Sumedang. Dengan kata lain, penelitian taraf kedua ini berkenaan dengan efektifitas pengajaran kalimat dengan materi-materi tertentu.

Metode
Metode penelitian yang digunakan terdiri atas dua bagian. Kedua metode ini dilakukan karena penelitian ini mengalami dua tahap dari dua waktu dan tempat yang berbeda. Tujuan penelitian kedua penelitian ini berbeda sekalipun materi pembelajarannya sama yaitu pembelajaran kalimat. Pada penelitian yang pertama, digunakan teknik korelasi untuk mengetahui hubungan antara tes klos wacana dengan tes pemahaman pola kalimat. Pada penelitian yang kedua, digunakan penelitian tindakan kelas yang relevan dalam membenahi pengajaran-pengajaran kalimat di kelas. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan taraf keberhasilan pengajaran kalimat di kelas dengan mengidentifikasi dan meredusi kekurangan-kekurangannya.

Kalimat dalam Tinjauan Pustaka
Penelitian terdahulu berkenaan dengan kalimat cukup melimpah. Sumber-sumber rujukan berkenaan dengan kalimat (sintaksis) pun menunjukkan perkembangan yang pesat dari penelitian kalimat. Sumber-sumber rujukan yang menguraikan pola kalimat, di antaranya Moeliono (1988), Parera (1988), Wojowasito (1976), Badudu (1990), dan Ramlan (1981). Dalam pembahasannya, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan pola kalimat. Dengan demikian, diperlukan kecermatan untuk membedakan dan argumentasi yang mendasar agar penentuan pola kalimat yang menjadi dasar pembahasan dalam penelitian ini dapat diterima.

Moeliono (1988) mengungkapkan satu istilah yang menarik sebagai bagian dari rujukan untuk penelitian ini. Moeliono mengungkapkan istilah pola dasar kalimat inti. Istilah pola dasar kalimat inti ini berbeda dengan yang diungkap Badudu (1990).

Dalam memahami materi kalimat, terdapat beberapa syarat yang mesti dikuasai pembelajar di antaranya penguasaan kategori kata (kelas kata). Pembahasan kelas kata lebih banyak diperoleh pada materi morfologi. Pembahasan kalimat berdasarkan kategori kata pun di bahas oleh Badudu (1990), Chaer (1994) juga Kridalaksana (1994).

Pembahasan kalimat yang diuraikan para pakar mendorong kemungkinan pengembangan penelitian kalimat. Berdasarkan pembahasan dalam kajian pustaka inilah penelitian ini dilanjutkan.

Hasil Penelitian
Pada penelitian tahap pertama, pengujian kalimat dengan teknik klos mempunyai hubungan yang signifikan sebesar r = 0,5183 dengan pemahaman pola. Nilai hubungan sebesar r = 0,5183 berarti bahwa hubungan antara dua variabel (teknik klos dan pemahaman pola). Melalui penelitian ini pula diperoleh sejumlah varian dari delapan pola dasar Badudu (1990).

Hasil penelitian lainnya diperoleh dari penelitian hatap dua yaitu berupa (1) pengajaran kalimat aktif-pasif, (2) pengajaran kalimat berdasarkan kategori predikat, (3) pengajaran pola kalimat, dan (4) pengajaran kalimat majemuk. Berikut ini adalah penjelasan hasil penelitian itu.

Kalimat Aktif-Pasif
Pembahasan kalimat aktif-pasif akan berkaitan dengan verba dan verba transitif. Dalam pembahasan kalimat aktif akan berhubungan dengan objek karena objek berkaitan dengan verba transitif. Berikut ini pembahasan ringkas berkenaan dengan hasil temuan pengajaran kalimat aktif-pasif.

No. Aktif Pasif
1. Ia minum susu. Susu diminum olehnya.
Susu diminumnya.
2. Saya membeli buku. Buku dibeli oleh saya.
Buku saya beli.
3. Kami mencari mereka. Mereka dicari (oleh) kami.
Mereka kami cari.
4. Mereka mendapati kami. Kami didapati (oleh) mereka.

Kalimat Berdasarkan Kategori Kata
Pembahasan ringkas dari Chaer (1994) dan Parera (1988: 10) yang menguraikan kalimat berdasarkan kategori kata. Parera (1988: 10) menentukan ada lima pola dasar kalimat inti sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. NP + NP Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
2. NP + AP Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
3. NP + VP Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
4. NP + VP + NP Petani mencangkul kebun.
Kami belajar linguistik.
Kakak mengendong adik.
5. NP + VP + NP + NP Ibu membelikan adik boneka
Paman memberikan bibi rumah

Uraian Parera sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Namun dalam kesempatan ini hanya akan dibahas pola dasar kalimat inti Badudu (1990: 32). Temuan dalam penelitian ini lebih relevan dengan uraian Badudu sebagai berikut.

No. Kategori Predikat Contoh Kalimat
1. Verba Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
2. Nomina Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
3. Ajektiva Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
4. Numeralia Harganya seribu rupiah.
IPK-nya 3,60.
5. Preposisi Ia dari Bali.
Uang itu pada saya.
Bapak ke kantor.

Pola Kalimat
Sekalipun tata bahasa yang dipilih seorang pengajar bisa saja berbeda dengan tata bahasa yang dipilih pengajar lain, tata bahasa yang diajarkannya harus memenuhi kriteria ilmiah yaitu empiris. Empiris itu berarti tata bahasa harus bisa dibuktikan secara ilmiah, oleh setiap oraang, di setiap tempat dan pada setiap waktu.

Pengajaran fungsi kalimat merupakan pengetahuan standar yang diajarkan dalam kelas-kelas bahasa bahkan mulai di sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-K, (5) S-P-O-Pel, (6) S-P-O-Pel-K, (7) S-P-O-K, dan (8) S-P-Pel-K. Kedelapan pola dasar itu, dapat diturunkan menjadi varian yang tak terbatas sebagaimana dari 26 huruf latin diturunkan menjadi kata tertulis bahasa Indonesia yang tak terbatas.

Contoh kalimat berdasarkan pola dasar Badudu (1990: 32) ialah sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. S-P Dudi berenang.
Ia menangis.
Harimau binatang buas.
2. S-P-O Libi minum susu.
Binatang itu memanjat pohon.
3. S-P-Pel Ia menangis tersedu-sedu.
Adik bermain bola.
4. S-P-K Cincin itu terbuat dari emas.
Bapak pergi ke kantor.
5. S-P-O-Pel Saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan.
Mereka menamai anak itu Sarah.
6. S-P-O-Pel-K Setiap pagi ibu membuatkan kami nasi goreng.
Ia mengirimi ibunya uang setiap bulan.
7. S-P-O-K Libi minum susu setiap pagi.
Binatang itu memanjat pohon untuk tidur.
8. S-P-Pel-K Ia menangis tersedu-sedu ketika mendengar berita itu.
Adik bermain bola di lapangan.

Banyak sumber yang mewakili teori fungsi kalimat bahasa Indonesia di antaranya adalah buku Sugono (1986) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) (1998), Ramlan (1981), Badudu (1990), Parera (1988) dan Alisyahbana (1953).

Kalimat Majemuk
Pengajaran kalimat majemuk akan lebih mudah dijembatani dengan pengajaran konjungsi (kata sambung). Melalui pengajaran konjungsi itu, pembelajar diperintahkan untuk membuat kalimat. Kalimat yang dibuat pembelajar itu diuraikan klausanya, selanjutnya diuraikan pula polanya.

No. Konjungsi Kalimat Pola
1. dan Ia pergi dan takkan kembali S-P//P
2. walau Walau lelah dilakukannya juga pekerjaan itu. #P#(K)//P-S
3. bahwa Ia berkata bahwa ia mencintaiku. S-P-(Pel)#S-P#
4. bahkan Ia tidak hanya membentak bahkan juga memukul S-P-(K)#P#
5. karena Ia tidak hadir karena hujan turun. S-P-(K)#S-P#

Pengajaran kalimat, di samping sangat penting juga sangat menarik untuk diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Penguasaan kalimat akan mempermudah pemahaman serta mengurangi kekeliruan dalam berbahasa. Hilangnya suatu fungsi dalam kalimat akan menyebabkan kalimat yang dibentuk penutur menjadi keliru. Karena itu penguasaan kalimat akan mengurangi kekeliruan dalam berbahasa.

Rekomendasi
Pembahasan ihwal perilaku pelengkap merupakan penelitian lebih lanjut yang direkomendasikan karena dalam penelitian ini diperoleh perilaku pelengkap yang menarik untuk diamati. Sekalipun beberapa peneliti telah melakukan kerja ilmiahnya berkenaan dengan perilaku pelengkap, penelitian ihwal perilaku pelengkap tetap memberikan peluang bagi setiap pengajar bahasa untuk menelitinya. Masih ada peluang untuk menutupi kekurangan dari penelitian sebelumnya untuk menyempurnakan teori kebahasaan yang berkembang dari khazanah perilaku berbahasa masyarakat.

 

About these ads
By Aking Zerzawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s