Makalah Gizi Masyarakat

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. 1.   1 Latar Belakang

Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, Dewasa ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan demikian, sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.

Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Mulai dari bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa sampai dengan usia lanjut.

Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.

Suatu penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai lawan dari peiiyebab tunggal (single causation).

Berlandaskan oleh latar belakang di atas maka di dalam makalah ini akan dibahas mengenai gizi masyarakat.

  1. 1.   2 Rumusan Masalah

   Makalah ini disusun berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah yang dimaksud dengan gizi?
  2. Apakah yang dimaksud dengan gizi kesehatan masyarakat?
  3. Apakah yang dimaksud dengan status gizi?
  4. Apakah yang dimaksud indikator status gizi?
  5. Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi status gizi seseorang?
  6. Apa saja akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi)?
  7. Apa saja cara-cara dalam perbaikan status gizi?
  8. Bagaimana cara penanggulangan masalah gizi?
  9. Bagaimana cara penilaian status gizi?
  10. Bagaimana gizi menurut daur kehidupan?
  11. Bagaimana permasalahan gizi masyarakat?
  12. Bagaimana solusi permasalahan gizi masyarakat?

m. Bagaimana cara program gizi dan kesehatan masa depan?

1. 3 Tujuan pembahasan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Mahasiswa dapat mengerti tentang pengertian gizi;
  2. Mahasiswa dapat memahami gizi dalam kesehatan masyarakat;
  3. Mahasiswa Dapat memahami definisi status gizi;
  4. Mahasiswa Dapat memahami definisi indikator status gizi;
  5. Mahasiswa Dapat memperluas wawasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi status gizi seseorang;
  6. Mahasiswa Dapat memperkaya pengetahuan tentang akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi);
  7. Mahasiswa Dapat menambah wawasan tentang cara-cara dalam perbaikan status gizi;
  8. Mahasiswa dapat memahami daur kehidupan gizi;
  9. Mahasiswa Dapat mengetahui beberapa cara penanggulangan masalah gizi.
  10. Mahasiswa dapat mengetahui penilaian status gizi;
  11. Mahasiswa dapat memahami permasalahan gizi masyarakat;
  12. Mahasiswa dapat mengetahui solusi permasalahan gizi masyarakat;
  13. Mahasiswa dapat memahami program perbaikan gizi dan kesehatan masa depan

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Gizi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.

Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat.

Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.

Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.

Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.

  1. B.     Gizi dalam kesehatan masyarakat

Terkait erat dengan ”gisi kesehatan masyarakat” adalah ”kesehatan gizi masyarakat,” yang mengacu pada cabang populasi terfokus kesehatan masyarakat yang memantau diet, status gizi dan kesehatan, dan program pangan dan gizi, dan memberikan peran kepemimpinan dalam menerapkan publik kesehatan prinsip-prinsip untuk kegiatan yang mengarah pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pengembangan kebijakan dan perubahan lingkungan.

Definisi Gizi kesehatan masyarakat merupakan penyulingan kompetensi untuk gizi kesehatan masyarakat yang disarankan oleh para pemimpin nasional dan internasional dilapangan.

Gizi istilah dalam kesehatan masyarakat mengacu pada gizi sebagai komponen dari cabang kesehatan masyarakat , ”gizi dan kesehatan masyarakat” berkonotasi koeksistensi gizi dan kesehatan masyarakat, dan gizi masyarakat mengacu pada cabang kesehatan masyarakat yang berfokus pada promosi kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat dengan menyediakan layanan berkualitas dan program-program berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan yang unik dari komunitas yang berbeda dan populasi. Gizi masyarakat meliputi program promosi kesehatan, inisiatif kebijakan dan legislatif, pencegahan primer dan sekunder, dan kesehatan di seluruh rentang hidup

 

  1. C.    Definisi Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari. Adapun definisi lain menurut Suyatno, Ir. Mkes, Status gizi yaitu Keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah asupan (“intake”) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (“requirement”) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis: (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). Status gizi yang baik diperlukan untuk mempertahankan derajat kebugaran dan kesehatan, membantu pertumbuhan bagi anak, serta menunjang pembinaan prestasi olahragawan. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan kesehatan. Status gizi juga dibutuhkan untuk mengetahui ada atau tidaknya malnutrisi pada individu maupun masyarakat. Dengan demikian, status gizi dapat dibedakan menjadi gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.

 

  1. D.    Indikator Status Gizi

Indikator status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Indikator status gizi umumnya secara langsung dapat terlihat dari kondisi fisik atau kondisi luar seseorang.

contoh: pertumbuhan fisik → ukuran tubuh → antropometri (berat badan, tinggi badan, dan lainnya).

  1. E.     Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Gizi Seseorang

ü Faktor Lingkungan

Lingkungan yang buruk seperti air minum yang tidak bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran kuman patogen.
Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan dengan produksi tanaman.

ü  Faktor Ekonomi

Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil.

Masalah gizi di negara-negara miskin yang berhubungan dengan pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas. Kuantitas menunjukkan penyediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh. Kualitas berhubungan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh dengan segala fungsinya.

ü Faktor Sosial-Budaya

Indikator masalah gizi dari sudut pandang sosial-budaya antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi nikah-cerai-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator demografi yang meliputi susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan jumlah penduduk, tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak kelahiran.

Tingkat pendidikan juga termasuk dalam faktor ini. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan seseorang, kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan.

ü  Faktor Biologis/Keturunan

Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.

ü  Faktor Religi

Religi atau kepercayaan juga berperan dalam status gizi masyarakat, contohnya seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi ikan.

 

  1. F.     Akibat yang Ditimbulkan Karena Gizi Salah (Malnutrisi)

Gizi salah berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia. Gizi salah yang diderita pada masa periode dalam kandungan dan periode anak-anak, menghambat kecerdasan anak. Anak yang menderita gizi salah tingkat berat mempunyai otak yang lebih kecil daripada ukuran otak rata-rata dan mempunyai sel otak yang kapasitasnya 15%-20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang bergizi baik. Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa anak yang pernah menderita gizi salah, hasil tes mentalnya kurang bila dibandingkan dengan hasil tes mental anak lain yang bergizi baik. Anak yang menderita gizi salah mengalami kelelahan mental serta fisik, dan dengan demikian mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi di dalam kelas, dan seringkali ia tersisihkan dari kehidupan sekitarnya.

Anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah telah diteliti memiliki persentase di bawah ukuran normal bagi tinggi dan berat badan anak sehat. Sedangkan hubungan antara zat gizi dan produktivitas kerja telah dikenal baik sejak satu abad yang lalu oleh orang-orang yang mempunyai budak belian yang melihat bahwa gizilah berarti penurunan nilai modal. Produktivitas pekerja yang disiksa atau mendapat tekanan akan memberikan hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan keadaan yang diurus dengan baik, dalam artian diberikan makanan yang bergizi cukup baik.

Gizi salah merupakan sebab-sebab penting yang berhubungan dengan tingginya angka kematian di antara orang dewasa meskipun tidak begitu mencolok bila dibandingkan dengan angka kematian di antara anak-anak yang masih muda. Dampak relatif yang ditimbulkan oleh gizi salah ialah melemahkan daya tahan tehadap penyakit yang biasanya tidak mematikan dan perbaikan gizi adalah suatu faktor utama yang membantu meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Status gizi juga berhubungan langsung dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk penyembuhan setelah menderita infeksi, luka, dan operasi yang berat.

  1. G.    Cara-Cara Perbaikan Status Gizi

Pengaturan makanan adalah upaya untuk meningkatkan status gizi, antara lain menambah berat badan dan meningkatkan kadar Hb. Berikut adalah pengaturan makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi:

  • Kebutuhan energi dan zat gizi ditentukan menurut umur, berat badan, jenis kelamin, dan aktivitas;
  • Susunan menu seimbang yang berasal dari beraneka ragam bahan makanan, vitamin, dan mineral sesuai dengan kebutuhan
  • Menu disesuaikan dengan pola makan;
  • Peningkatan kadar Hb dilakukan dengan pemberian makanan sumber zat besi yang berasal dari bahan makanan hewani karena lebih banyak diserap oleh tubuh daripada sumber makanan nabati;
  • Selain meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi, juga perlu menambah makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti pepaya, jeruk, nanas, pisang hijau, sawo kecik, sukun, dll.
  1. H.    Penanggulangan Masalah Gizi

Seperti yang telah kita ketahui, masalah gizi yang salah kian marak di negara kita. Dengan demikian diperlukan penanggulangan guna memperbaiki gizi masyarakat Indonesia. Berikut ini cara-cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi gizi salah, baik gizi kurang maupun gizi lebih.

a)      Penanggulangan masalah gizi kurang

ü  Upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui peningkatan produksi beraneka ragam pangan;

ü  Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yng diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga;

ü  Peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan dimulai dari tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), hingga Puskesmas dan Rumah Sakit;

ü  Peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG);

ü  Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang pangan dan gizi masyarakat;

ü  Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas;

ü  Intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirup besi serta kapsul minyak beriodium;

ü  Peningkatan kesehatan lingkungan;

ü  Upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, Iodium, dan Zat Besi;

ü  Upaya pengawasan makanan dan minuman;

ü  Upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.

b)      Penanggulangan masalah gizi lebih

Dilakukan dengan cara menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makanan dan penambahan latihan fisik atau olahraga serta menghindari tekanan hidup/stress. Penyeimbangan masukan energi dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol.

  1. I.       Penilaian Status Gizi

Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh.

Macam-macam penilaian status gizi

  1. Penilaian status gizi secara langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.

 

a. Antropometri

1) Pengertian

Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

2) Penggunaan

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

3) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI)

Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah Indeks Massa Tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.

Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.

Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

Berat Badan (Kg)

IMT = ——————————————————-

Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

 

Kategori

IMT

Kurus

Kekurangan berat badan tingkat berat

<>

Kurus sekali

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 – 18,4

Normal

Normal

18,5 – 25,0

Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan

25,1 – 27,0

Obes

Kelebihan berat badan tingkat berat

> 27,0

Untuk mengukur status gizi anak baru lahir adalah dengan menimbang berat badannya yaitu : jika ≤ 2500 gram maka dikategorikan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) jika 2500 – 3900 gram Normal dan jika ≥ 4000 gram dianggap gizi lebih.

Untuk Wanita hamil jika LILA (LLA) atau Lingkar lengan atas <>

b. Klinis

1) Pengertian

Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

2) Penggunaan

Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fifik yaitu tanda (sign) dan gejala (Symptom) atau riwayat penyakit.

c. Biokimia

1) Pengertian

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.

2) Penggunaan

Metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.

d. Biofisik

1) Pengertian

Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan.

2) Penggunaan

Umumnya dapat digunaakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

  1. Penilaian gizi secara tidak langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu : Survei Konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.

a. Survei Konsumsi Makanan

1) Pengertian

Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.

2) Penggunaan

Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.

b. Statistik Vital

1) Pengertian

Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis dan beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan.

2) Penggunaan

Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

c. Faktor Ekologi

1) Pengertian

Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dll.

2) Penggunaan

Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.

  1. J.      Gizi Daur Kehidupan

United Nations (Januari, 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi, yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai, penyakit infeksi, pola asuh, konsumsi makanan yang kurang, dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian.

 

Ket :

WUS = Wanita Usia Subur

BUMIL = Ibu Hamil

MP- ASI = Makanan Pendamping ASI

BB = Berat Badan

KEK = Kurang energi kronis

KEP = Kurang Energi dan Protein

BBLR = Berat Bayi Lahir Rendah

MMR = Maternal Mortality Rate = Angka Kematian Ibu Melahirkan

IMR = Infant Mortality Rate = Angka Kematian Bayi (anak usia <>

ASI Eksklusif = Pemberian kepada bayi hanya ASI saja (sampai 6 bulan)

 

  1. K.    Permasalahan Gizi Masyarakat

Permasalahan Gizi Masyarakat dapat dilihat pada bagan berikut :

UNICEF (1988) telah mengembangkan kerangka konsep makro (lihat skema.) sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh:

1. Penyebab langsung

Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.

2. Penyebab tidak langsung

Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :

ü  Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.

ü  Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.

ü  Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.

Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.

3. Pokok masalah di masyarakat

Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

4. Akar masalah

Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai.

Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi dari masalah gizi makro bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Anak balita yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi, apabila sesuai dengan standar anak disebut Gizi Baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut Gizi Kurang, sedangkan jika jauh di bawah standar disebut Gizi Buruk. Bila gizi buruk disertai dengan tandatanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus, dan bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut Kwashiorkor. Marasmus dan Kwashiorkor atau Marasmus Kwashiorkor dikenal di masyarakat sebagai “busung lapar”. Gizi mikro (khususnya Kurang Vitamin A, Anemia Gizi Besi, dan Gangguan Akibat Kurang Yodium).

Menurut Hadi (2005), Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak masyarakat yang kekurangan gizi, tapi di sisi lain terjadi gizi lebih.

Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015

Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki, maka status kesehatan dapat tercapai. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi, berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010, World Fit for Children 2002, dan Millenium Development Goal 2015. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor.

Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2, penyebab yang mendasar adalah:

  • Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998, menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG, 2000). Berdasarkan SP 2000, diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51.513.364, berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga, kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%, dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%.
  • Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan, yang berdasarkan kajian Susenas 2002, diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18.2% atau 38,4 juta penduduk (BPS, 2002). Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi, masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%.
  • Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan, kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi, masalah kesehatan lainnya, dan masalah kemiskinan. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%.
  • Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi, lingkungan, dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai, disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. Hasil SDKI tahun 1991, 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%, 10% dan 9%. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991, 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%, 12% and 10%; dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%.
  • Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah, banyak Posyandu yang tidak berfungsi. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada.
  • Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah, dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda, hanya sekitar 15-17%. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan.
  • Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis.
  • Masih tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita, rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah.
  • Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147.0/kapita/tahun), demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun).

Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor, maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut:

1. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita

Dari uraian sebelumnya, penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita, antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat, diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. Pada hasil kajian Susenas 2003, prevalensi gizi kurang adalah 19,2% dan gizi buruk 8,3%. Dengan asumsi penurunan 30%, diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13,7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5.7%

2. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah

Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara, menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm.

Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang ‘secular trend” dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia.

Di Indonesia penelitian “secular trend” kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Dari hasil kedua survei tersebut, dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2,3 cm pada anak laki-laki dan 2,4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun.

Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3.7%. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0.1-0.3 cm. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3,7% dalam kurun waktu 5 tahun, serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita, yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%.

3. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur

Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003, penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. Untuk peningkatan status gizi penduduk, kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 – 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. Seperti yang terlihat pada Figure 10, 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK.

Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 – 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun.

Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003, pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR, menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia.

4. Proyeksi masalah gizi mikro

Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA, GAKY dan Anemia Gizi. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk, seperti masalah kurang kalsium, kurang asam folat, kurang vitamin B1, kurang zink.

Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA, GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A, kapsul yodium, maupun tablet besi. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi, penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan.

Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA, GAKY dan anemia gizi. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan, karena informasi untuk kurang kalsium, zink, asam folat, vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari.

Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia, akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg, dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. Dari beberapa laporan, kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali, terutama di NTB.

Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu, selain strategi lain (fortifikasi, penyuluhan, dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Diharapkan dengan “multiple strategy” 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015, atau penurunan 50%.

Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9,8% pada tahun 1996/1998. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003.

Akan tetapi, penurunan ini secara nasional tidak terjadi, masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini, antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium).

Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah, pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal.

Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal, prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. Dengan kondisi ini, ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%.

Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50,9% (1995) menjadi 40% (2001). Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil, akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja.

Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27,1%. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015, karena sampai dengan tahun 2002, intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif.

Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian, pola penyakit, tingkat konsumsi, pendapatan dan pendidikan. Selain itu sampai dengan tahun 2003, masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh.

E. Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat

Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama.

Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR). Kabupaten Kota daerah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai filosofi yang baik “menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI.

Peran Perguruan Tinggi. Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar supaya pembangunan kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di tengah-tengah masyarakat, mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang kompetensi ahli gizi Indonesia dan memformulasikannya dalam bentuk kurikulum pendidikan tinggi yang dapat memenuhi tuntutan zaman.

Menurut Azwar (2004). Solusi yang bisa dilakukan adalah :

  1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait.
  2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
  3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik.
  4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
  5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
  6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat.
  1. A.    Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan

Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.

Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang, antara lain:

  1. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi, mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan, mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.
  2. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal.
  3. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta.
  4. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan maka dapat dibuat beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
  2. Definisi Gizi kesehatan masyarakat merupakan penyulingan kompetensi untuk gizi kesehatan masyarakat yang disarankan oleh para pemimpin nasional dan internasional dilapangan.
  3. Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari
  4. Indikator status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh
  5. Beberapa faktor yang memengaruhi status gizi seseorang yaitu faktor lingkungan, faktor ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor biologis/keturunan, dan faktor religi.
  6. Akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi) akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia.
  7. Cara-cara perbaikan status gizi yaitu dengan pengaturan makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi.
  8. Penanggulangan masalah gizi terdiri dari: Penanggulangan masalah gizi kurang dan Penanggulangan masalah gizi lebih
  9. Gizi Daur Kehidupan. United Nations (Januari, 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi.
  10. Permasalahan Gizi Masyarakat. Penyebab langsung, Penyebab tidak langsung, Pokok masalah di masyarakat dan Akar masalah.
  11. Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat. Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama, Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR) dan Peran Perguruan Tinggi.
  12. Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan. Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By Aking Zerzawa

KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI

A. Pengertian Perawat

Sesuai PERMENKES RI NO.1239 Tahun 2001 tentang Registrasi danPraktik Perawat, dijelaskan PERAWAT adalah: Seseorang yang telah luluspendidikan keperawatan,baik di dalam maupun di luar negeri sesuai denganketentuan perundang-undangan yang berlaku.a.

 

Peran perawatPeran : Seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadapseseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu sistem.Doheny ( 1982 )mengidentifikasi beberapa elemen peran Perawat Profesional,meliputi :Care Giver, Client Advocate, Counsellor, Educator, Collaborator,Coordinator, Change Agent, dan Consultantb.

 

Fungsi PerawatFungsi : suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya.Kozier ( 1991 ) mengemukakan 3 ( tiga ) fungsi perawat : Fungsi Keperawatanmandiri ( independen ), Fungsi Keperawatan Ketergantungan ( dependen ), danFungsi Keperawatan kolaboratif  \

( interdependen ).

c. Keperawatan

LOKAKARYA NASIONAL tentang KEPERAWATAN bulan JANUARI 1983 diJAKARTA merupakan awal diterimanya KEPERAWATAN SEBAGAI SUATUPROFESI.KEPERAWATAN Adalah : suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakanbagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga, dan masyarakat, baik sakitmaupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.Dari pengertian tersebut diatas ada 4 ( empat) elemen utama   ( mayor elements) yang menjadi perhatian ( concern), Yaitu :

1. Keperawatan adalah ilmu dan kiat -sains terapan ( applied science ) ,

2. Keperawatan adalah profesi yang  berorientasi pada pelayanan _ helping health illness problem,

3. Keperawatanmempunyai empat tingkat klien : individu,keluarga,kelompok, dan komunitas dan,

4. Pelayanan Keperawatan mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan-3thlevel preventions dengan metodologi proskep

B. Pengertian Profesi

Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentinganmasyarakat dan bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu.Profesi sangat mementingkan kesejahteraan orang lain, dalam konteks bahasanini konsumen sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan professional.

a. Beberapa pengertian profesi

 1. Winsley (1964)Profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan badan ilmu sebagai dasaruntuk pengembangan teori yang sistematis guna menghadapi banyak tantanganbaru, memerlukan pendidikan dan pelatihan yang cukup lama, serta memilikikode etik dengan fokus utama pada pelayanan.

2. Schein E. H (1962)Profesi merupakan suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatuset norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus dimasyarakat.

3. Hughes,E.C ( 1963 )Profesi merupakan suatu keahlian dalam mengetahui segala sesuatu denganlebih baik dibandingkan orang lain (pasien).

4. Websterprofesi adalah pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lama danmenyangkut ketrampilan intelaktual.

5. Kelly dan Joel, 1995 menjelaskan professional sebagai suatu karakter, spirit atau metodeprofessional yang mencakup pendidikan dan kegiatan diberbagai kelompokokupasi yang angotanya berkeinginan menjadi professional. Professionalmerupakan suatu proses yang dinamis untuk memenuhi atau mengubahkarakteristik kearah suatu profesi.

Karakteristik Profesi1. Gary dan Pratt (1991), Kiozer Erb dan Wilkinson (1995) mengemukakankarakteristik professional sebagai berikut :

ü  Konsep misi yang terbuka terhadap perubahan

ü  Penguasaan dan penggunaan pengetahuan teoritis

ü  Kemampuan menyelesaikan masalahd.

ü  Pengembangan diri secara berkesinambungane.

ü  Pendidikan formalf. System pengesahan terhadap kompetensig.

ü  Penguatan secara legal terhadap

ü  standart professionalh.

ü  Praktik berdasarkan etiki.

ü  Hukum terhadap malpraktik 

ü  Penerimaan dan pelayanan pada masyarakatk.

ü  Perbedaan peran antara pekerja professional dengan pekerjaan lain danmembolehkan praktik yang otonom.

2. Menurut Lindberg, Hunter dan Kruszewski (1993), Leddy dan Pepper (1993)serta Berger dan Williams (1992), keperawatan sebagai suatu profesi memilikikarakteristik sebagai berikut :

a)      Kelompok pengetahuan yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikanmasalah dalam tatanan praktik keperawatan.Pada awalnya praktik keperawatan dilandasi oleh ketrampilan yangbersifat intuitif. Sebagai suatu disiplin, sekarang keperawatan disebut sebagaisuatu ilmu dimana keperawatan banyak sekali menerapkan ilmu-ilmu dasar sepertiilmu perilaku, social, fisika, biomedik dan lain-lain. Selain itu keperawatan jugamempelajari pengetahuan inti yang menunjang praktik keperawatan yaitu fungsitubuh manusia yang berkaitan dengan sehat dan sakit serta pokok bahasanpemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada klien

b)      Kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada masyarakat.Fungsi unik perawat adalah memberikan bantuan kepada sesorang dalam melakukan kegiatan untuk menunjang kesehatan dan penyembuhan sertamembantu kemandirian klien.

c)      Pendidikan yang mmenuhi standart dan diselenggarakan di perguruan tinggiatau universitas.Beralihnya pendidikan keperawatan kepada institusi pendidikan tinggimemberikan kesempatan kepada perawat untuk mendapatkan pengetahuan danketrampilan intelektual, interpersonal dan tehnikal yang memungkinkan merekamenjalankan peran dengan lebih terpadu dalam pelayanan kesehatan yangmenyeluruh dan berkesinambungan. Disampingg itu perawat dituntut untukmengembangkan Iptek keperawatan.

d)     Pengendalian terhadap standart praktik.Standart adalah pernyatan atau criteria tentang kualitas praktik.Standart praktik keperawatan menekankan kpada tangung jawab dan tangunggugat perawat untuk memenuhi standart yang telah ditetapkan yang bertujuanmenlindungi masyarakat maupun perawat. Perawat bekerja tidak dibawahpengawasan dan pengendalian profesi lain.

e)      Bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan.Tangung gugat accountable berarti perawat bertanggung jawab pelayanan yangdiberikan kepada klien. Tanggung gugat mengandung aspek legal terhadapkelompok sejawat, atasan dan konsumen. Konsep tangung gugat mempunyai duaimplikasi yaitu bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari tindakan yangdilakukan dan juga menerima tanggung jawab dengan tidak melakukan tindakanpada situasi tertentu.

f)       Karir seumur hidupDibedakan dengan tugas/job yang merupakan bagian dari pekerjaan rutin.Perawat bekerja sebagai tenaga penuh yang dibekali dengan pendidikan danketrampilan yang menjadi pilihannya sendiri sepanjang hayat.

g)      Fungsi mandiri Perawat memiliki kewenangan penuh melakukan asuhan keperawatanwalaupun kegiatran kolaborasi dengan profesilain kadang kala dilakukan dimanaitu semua didasarkan kepada kebutuhan klien bukan sebagai ekstensi intervensiprofesi lain.

 

3.menurut Winsley,(1964 ):

  • Didukung oleh badan ilmu ( body of knowledge ) yang sesuai denganbidangnya, jelas wilayah kerja keilmuannya dan aplikasinya.
  • Profesi diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang terencana,terus menerus dan bertahap
  • Pekerjaan profesi diatur oleh kode etik profesi serta diakui secaralegal melalui perundang-undangan
  • Peraturan dan ketentuan yag mengatur hidup dan kehidupan profesi(standar pendidikan dan pelatihan, standar pelayanan dan kode etik)serta pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan tersebutdilakukan sendiri oleh warga profesi
  • Dikatakan juga oleh Shortridge,L.M ( 1985 ),Ciri-ciri profesi esensial suatuprofesi adalah sbb:
  1. Berorientasi pada pelayanan masyarakat
  2. Pelayanan keperawatan yang diberikan didasarkan pada ilmu pengetahuan
  3. Adanya otonomid.
  4. Memiliki kode etike.
  5. Adanya organisasi profesi.

 

 

C. Perkembangan Profesionalisme Keperawatan

Melihat catatan sejarah tentang awal mula keberadaan perawat diIndonesia, yang diperkirakan baru bermula pada awal abad ke 19, dimanadisebutkan adanya perawat saat itu adalah dikarenakan adanya upaya tenagamedis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehinggadiperlukan tenaga yang dapat membantu atau tenaga pembantu. Tenaga tersebutdididik menjadi seorang perawat melalui pendidikan magang yang berorientasipada penyakit dan cara pengobatannya. Sampai dengan perkembangankeperawatan di Indonesia pada tahun 1983 PPNI melakukan Lokakarya NasionalKeperawatan di Jakarta, melalui lokakarya tersebut prawat bertekad danbersepakat menyatakan diri bahwa keperawatan adalah suatu bidangkeprofesian.Perkembangan profesionalisme keperawatan di Indonesia berjalan seiringdengan perkembangan pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia. Pengakuanperawat profesionalan pemula adalah bagi mereka yang berlatar belakangpendidikan Diploma III keperawatan. Program ini menghasilkan perawat generalissebagai perawat professional pemula, dikembangkan dengan landasan keilmuan yang cukup dan landasan professional yang kokoh.

 

Perkembangan pendidikan keperawatan dalam rangka menuju tingkatkeprofesionalitasan tidak cukup sampai di tingkat diplima saja, di ilhamikeinginan dari profesi keperawatan untuk terus mengembangkan pendidikan makaberdirilah PSIK FK-UI (1985) dan kemudian disusul dengan pendirian programpaska sarjana FIK UI (1999).Peningkatan kualitas organisasi profesi keperawatan dapat dilakukan melaluiberbagai cara dan pendekatan antara lain :1. Mengembangkan system seleksikepengurusan melalui pnetapan criteria dari berbagai aspek kemampuan,pendidikan, wawasan, pandangan tentang visi dan misi organisasi, dedikasi sertakeseterdiaan waktu yang dimiliki untuk organisasi.2. Memiliki serangkaian program yang kongkrit dan diterjemahkan melaluikegiatan organisasi dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Prioritas utamaadalah rogram pendidikan berkelanjutan bagi para anggotanya.3. Mengaktifkan fungsi collective bargaining, agar setiap anggota memperolehpenghargaan yang sesuai dengan pendidikan dan kompensasi masing-masing.4. Mengembangkan program latihan kepemimpinan, sehingga tenaga keperawatandapat berbicara banyak dan memiliki potensi untuk menduduki berbagai posisi dipemerintahan atau sector swasta.5. Meningkatkan kegiatan bersama dengan organisasi profesi keperawatan di luarnegeri, bukan anya untuk pengurus pusat saja tetapi juga mengikut sertakanpengurus daerah yang berpotensi untuk dikembangkan.D. Pohon Ilmu ( Body of Knowledge )Pohon ilmu dari keperawatan adalah ilmu keperawatan itu sendiri.Pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi harus dikembangkan sesuaidengan kaidah-kaidah ilmu dan profesi keperawatan, yang harus memilikilandasan akademik dan landasan professional yang kokoh dan mantap.Pengembangan pendidikan keperawatan bertolak dari pengertian dasartentang ilmu keperawatan seperti yang dirumuskan oleh Konsorsium Ilmukesehatan (1991) yaitu : ´ Ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu dasar sepertiilmu alam, ilmu social, ilmu perilaku, ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat,ilmu dasar keperawatan, ilmu keperawatan komunitas dan ilmu keperawatanklinik, yang apluikasinya menggunakan pendekatan dan metode penyelesaianmasalah secara ilmiah, ditujukan untuk mempertahankan, menopang, memeliharadan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia ´.Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentukdan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajianmendasar tentang hal-hal yang melatar belakangi, serta mempelajari berbagaibentuk upaya untuk mencapai kebutuhan dasar tersebut melalui pemanfaatansemua sumber yang ada dan potensial.

 

Bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi keperawatanadalah penyimpangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosio-spiritual), mulai dari tingkat individu tang utuh (mencakup seluruhsiklus kehidupan), sampai pada tingkat masyarakat, yang juga tercermin padatidak terpenuhinya kebutuhan dasar pada tingkat system organ fungsionalsampai sub seluler atau molekuler.E. Cerminan Perawat ProfesionalCerminan nilai professional perawat dalam praktik keperawatandikelompokkan dalam nilai intelektual dan nilai komitmen moral interpersonal,sebagai berikut :1. Nilai intelektualNilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri daria. Body of Knowledgeb. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif.2. Nilai komitmen moralPelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, danmemperhatikan kode etik keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989)pelayanan professional terhadap masyarakat memerlukan integritas, komitmenmoral dan tanggung jawab etik.Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat adalah :a. BeneficiencePerawat selalu mengupayakan keputusan yang dibuat berdasarkankeinginan melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994)b. FairTidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, social budaya,keadaan ekonomi dan sebagainya, tetapi memprlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan dengan keunikan yang dimiliki.c. FidelityBerperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu), selaluberusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moralserta memperhatikan kebutuhan spiritual klien.

 

KESIMPULAN :

DENGAN MELIHAT DEFINISI,CIRI PROFESI YANG TELAH DISEBUTKANDIATAS DAPAT KITA ANALISIS BAHWA KEPERAWATAN DIINDONESIA DAPAT DIKATAKAN SEBAGAI SUATU PROFESI

 

 

 

 

 

 

By Aking Zerzawa

Hubungan sistem pendidikan keperawatan dengan pelayanan keperawatan / kesehatan

  1. Hubungan sistem pendidikan keperawatan dengan pelayanan keperawatan / kesehatan?

Jawaban Oleh :

HAKIM B.

UMI MAKASSAR

Sistem perawatan kesehatan berubah dengan cepat. Perawat jaman sekarang berhadapan dengan perawatan klien yang mengharapkan asuhan keperawatan yang berkualitas dan mengharapkan perawatan profesional sebagai penyedia perawatan kesehatan terdidik dengan baik.

Pelayanan keperawatan mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Salah satu faktor yang mendukung keyakinan diatas adalah kenyataan yang dapat dilihat di unit pelayanan kesehatan seperti di rumah sakit, di mana tenaga yang selama 24 jam harus berada di sisi pasien adalah tenaga perawatan. Namun sangat disayangkan bahwa pelayanan keperawatan pada saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Keadaan ini bukan saja disebabkan oleh terbatasnya jumlah tenaga keperawatan yang kita miliki, tetapi terutama dikarenakan oleh terbatasnya kemampuan profesional yang dimiliki oleh sebagian besar jenis tenaga ini.

Proses keperawatan merupakan suatu jawaban untuk pemecahan masalah dalam keperawatan, karena proses keperawatan merupakan metode ilmiah yang digunakan secara sistematis dan menggunakan konsep dan prinsip ilmiah yang digunakan secara sistematis dalam mencapai diagnosa masalah kesehatan pasien, merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menentukan tindakan dan mengevaluasi mutu serta hasil asuhan keperawatan.

Pendekatan sistem dapat didefinisikan untuk memandang sesuatu sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur, komponen-komponen, elemen-elemen atau unit-unit yang saling berhubungan, saling berinteraksi, saling tergantung dalam mencapai tujuan. Pendekatan sistem meliputi cara berpikir tentang fenomena secara keseluruhan, metode atau teknik dalam memecahkan masalah atau pengambilan keputusan (kesadaran adanya masalah karena berbagai faktor).

Kata sistem menjadi sangat populer dengan munculnya pendekatan sistem yang digunakan dalam berbagai bidang ilmu. Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling berhubungan dan bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Kata sistem berasal dari bahasa latin (syst dan ema) dan bahasa yunani (sust dan ema) adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan suatu set kesatuan yang berinteraksi, ketika suatu model metematika sering kali dapat dibuat.

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. Misalnya, negara yang merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang salaing berhubungan sehingga membentuk suetu negara dengan rakyat sebagai penggeraknya. Kata “sistem” sering digunakan baik dalam percakapan sehari-hari, forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal dan berbagai bidang, sehingga memiliki makna yang beragam.

Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan alat yang memiliki hubungan di antara mereka. Sistem secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamin untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dengan demikian, keperawatan dapat diartiakan sebagai suatu keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam upaya mencapai tujuan akhir.

Komponen sistem dalam keperawatan

1. Manusia

Manusia adalah makhluk bio-psikososial yang utuh dan unik yang mempunyai kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual. Manusia dipandang secara menyeluruh dan holistik mempunyai siklus kehidupan meliputi tumbuh kembang, memberi keturunan, memiliki kemampuan untuk mengatasi perubahan dengan menggunakan berbagai mekanisme yang dibawa sejak lahir maupun yang didapat bersifat biologis, psikologis dan sosial.

Manusia selalu mencoba memenuhi kebutuhannya melalui serangkaian peristiwa yang mencakup belajar, menggali, serta menggunakan sumber-sumber yang diperlukan berdasarkan potensi dan keterbatasannya.

 

2. Lingkungan

Manusia selalu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, lingkungan meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan merupakan tempat dimana manusia berada, yang selalu mempengaruhi dan dipengaruhi manusia sepanjang hidupnya.

Setiap lingkungan mempunyai karakteristik tersendiri dan memberikan dampak yang berbeda pada setiap manusia, dalam menanggapi dampak lingkungan ini, manusia selalu berespon untuk mengadakan adaptasi agar keseimbangan dirinya tetap terjaga. Adaptasi dapat bersifat positif, dapat pula negatif (apabila manusia beradaptasi secara negatif pada pengaruh lingkungan maka akan menimbulkan masalah.

Lingkungan disini adalah semua keadaan diluar sistem tetapi dapat mempengaruhi kesehatan, lingkungan ini dapat berupa kondisi sosial budaya, lingkungan geografis yang ada di masyarakat yang berada di luar institusi kesehatan.

 

3. Kesehatan

Sehat merupakan suatu persepsi yang sangat individual, beberapa definisi tentang sehat adalah :

ü WHO (1947) : Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, sosoal dan tidak hanya bebas dari penyakit atau cacat.

ü Parson (1972) : Sehat adalah kemampuan individu secara optimal untuk menjalankan peran dan tugasnya secara efektif.

ü Dubois (1978) : Sehat adalah suatu proses yang kreatif individu secara aktif dan terus menerus beradaptasi dengan lingkungannya.

Kesehatan adalah suatu proses yang dinamis, terus menerus berubah sebagai interaksi antara individu dengan perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal.

 

4. Keperawatan

Tindakan keperawatan berdasarkan pada kebutuhan manusia, keperawatan dilaksanakan secara universal terjadi pada semua tingkat manusia. Tingkah laku dalam keperawatan meliputi rasa simpati, empati, menghargai orang lain, tenggang rasa. Keperawatan menghargai kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut manusia. Keperawatan membantu klien mengenal dirinya, sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan yang unik.

Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan keperawatan adalah salah satu bentuk “pelayanan profesional sebagai integral dari pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologis, psikologi sosial, dan spiritual secara komprehensif diajukan kepada individu, keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit, mencakup siklus hidup manusia”.

 

 

Proses input transformasi-output

1. Input

Input merupakan subsistem yang memberikan masukan untuk berfungsinya sebuah sistem. Dalam sistem pelayanan kesehatan, input dapat berupa potensi masyarakat, tenaga kesehatan, sarana kesehatan, dll.

2. Proses

Proses merupakan kegiatan yang berfungsi untuk mengubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yang diharapkan dari suatu sistem, misal berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.

3. Output

Output mereupakan hasil dari sebuah proses. Misalnya, pelayanan kesehatan yang berkualitas, efektif dan efisien, dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat sehingga klien sembuh dan sehat optimal.

4. Dampak

Dampak adalah akibat yang dihasilkan sebuah hasil dari sistem, yang terjadi relatif lama. Misalnya, dalam sistem pelayanan kesehatan dampaknya adalah masyarakat sehat, angka kesakitan dan kematian menurun.

 

D. Penerapan sistem dalam penggunaan proses keperawatan

Penerapan sistem dalam penggunaan proses keperawatan meliputi beberapa tahapan, yaitu :

 

 

 

1. Tahap pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan manganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan seorang pasien.

Tujuan pengkajian adalah untuk memberikan suatu gambaran yang terus mengenai kesehatan pasien, yang memungkinkan tim perawatan merencanakan asuhan keperawatan kepada pasien secara perorangan.

  1. Pengumpulan data

Pengumpulan data dimulai dilakukan sejak klien masuk rumah sakit, selama klien dirawat secara terus-menerus serta pengkajian dapat dilakukan ulang untuk menambah dan melengkapi data yang telah ada. Berdasarkan sumber data, data pengkajian dibedakan atas data primer dan data sekunder :

  • Ø Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien bagaimanapun kondisi klien.
  • Ø Data sekunder adalah data yang diperoleh selain dari pasien seperti dari perawat, dokter, ahli gizi, ahli fisiotheraphy, keluarga atau kerabat klien, catatan keperawatan serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya.

Secara umum ada beberapa cara pengumpulan data yaitu :

a)     Wawancara yaitu melalui komunikasi untuk mendapatkan respon dari pasien dengan tatap muka.

b)    Observasi yaitu dengan mengadakan pengamatan secara visual atau secara langsung kepada pasien.

c)     Konsultasi yaitu dengan melakukan konsultasi kepada yang ahli spesialis bagian yang mengalami gangguan.·

Melalui pemeriksaan seperti inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), auskultasi serta pemeriksaan fisik lainnya, seperti pengukuran EKG.

  1. Pengelompokan data

Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data-data terkumpul dikelompokkan, data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus.

  • Data dasar terdiri dari data fisiologis / biologi, data psikologis, data social, data spiritual dan data tentang tumbuhkembang klien.
  • Data khusus adalah data yang bersipat khusus. Misalnya laporan intake dan output cairan selama operasi, hasil pemeriksaan hematology, pemeriksaan roentgen dan sebagainya.

Selain data diatas, berdasarkan cara pengumpulan data dibagi atas data objektif dan data subjektif.

  • Data objektif adalah data yang diperoleh perawat berdasarkan hasil pemeriksaan atau observasi secara langsung.
  • Data subjektif adalah data yang diperoleh berdasarkan keluhan atau perkataan klien atau keluarganya.

 

  1. Analisa Data dan Perumusan Diagnosa Keperawatan

Tahapan terakhir dari pengkajian adalah analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan. Proses keperawatan analisa adalah menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep teori, prinsip asuhan keperawatan yang relevan dengan kondisi pasien. Analisa data dilakukan melalui pengesahan data, pengelompokkan data, membandingkan data, menentukan ketimpangan / kesenjangan serta membuat kesimpulan tentang kesenjangan masalah yang ada.

  1. Tahap Diagnosa

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status / masalah kesehatan aktual / potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi:

ü Adanya masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah / penyakit.

ü Faktor-faktor berkontraksi / penyebab adanya masalah.

ü Kemampuan klien mencegah / menghilangkan masalah.

Diagnosa keperawatan berorientasi kepada kebutuhan dasar manusia, berdasarkan pada kebutuhan dasar menurut Abraham Maslow, memperlihatkan respon individu / klien terhadap penyakit dan kondisi yang dialaminya.

3. Tahap Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien.

 

 

Tahap perencanaan keperawatan adalah :

  1. Proses penentuan prioritas

Proses ini dimulai dengan membuat prioritas diagnosa keperawatan, urutan prioritas diagnosa keperawatan menunjukkan masalah tersebut menjadi prioritas untuk dilakukan intervensi keperawatan. Meskipun demikian tidak berarti bahwa satu diagnosa harus dipecahkan dahulu secara total baru mengerjakan diagnosa berikutnya. Biasanya beberapa diagnosa keperawatan dapat diatasi secara bersamaan.

  1. Penetapan sasaran dan tujuan

Pada proses ini dilakukan setelah penetapan urutan prioritas diagnosa keperawatan. Sasaran adalah hasil yang diharapkan dalam mengurangi atau mengatasi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan. Sedangkan tujuan menggambarkan penampilan, hasil atau perilaku klien yang berhubungan dengan sasaran. Perencanaan tujuan bermanfaat dalam merancang, mengimplementasikan dan mengevaluasi asuhan keperawatan kepada klien.

  1. Penentuan kriteria evaluasi

Kriteria adalah standar yang dipakai untuk mengevaluasi penampialan klien. Misalnya klien dapat menyebutkan empat komplikasi diabetes millitus. Kriteria diperlukan apabiala tujuan belum spesifik dan tidak dapat diukur.

  1. Rencana intervensi

Adalah bagian akhir dari perencanaan dimana perawat memutuskan srategi dan intervensi keperawatan yang akan dilakukan. Strategi dan tindakan yang dilakukan diarahkan langsung pada etiologi atau faktor pendukung dari diagnosa keperawatan.

4. Tahap implementasi

Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan, keterampilan interpersonal, intelektual, dan tekhnikal. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. Keamanan fisik dan psikologi dilindungi dan didokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan.

Ada tiga fase implementasi keperawatan yaitu :

v Fase persiapan, meliputi pengetahuan tentang rencana, validasi rencana, pengetahuan dan keterampilan mengimplementasikan rencana, persiapan klien dan lingkungan.

v Fase operasional, merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan ( intervensi independent, dependen dan interdependen).

v Fase terminasi, merupakan terminasi perawat dengan klien setelah implementasi dilakukan.

5. Tahap evaluasi

Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan, dan kualitas data, teratasi atau tidaknya masalah klien, serta pencapaian tujuan serta ketetapan intervensi keperawatan. Akhirnya, penggunaan proses keperawatan secara tepat pada praktek keperawatan akan memberi keuntungan pada klien dan perawat. Kualitas asuhan keperawatan diharapkan dapat ditingkatkan. Perawat dapat mendemonstrasikan tangguang jawab dan tangguang gugatnya yang merupakan salah satu ciri profesi dan yang amat penting adalah menjamin efisiensi dan efektifitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.

6.  Tahap dokumentasi

Dokumentasi proses keperawatan merupakan metode pencatatan proses keperawatan yang tepat untuk pengambilan keputusan yang sistematis. Dokumentasi proses keperawatan mencakup pengkajian, dokumentasi masalah, perencanaan, tindakan.

E.   Hubungan sistem dengan subsistem dan supra sistem

Dalam sistem terdapat input (masukan), proses, output (hasil/keluaran), dan umpan balik. Pendekatan sistem merupakan satu cara yang memandang keperawatan secara menyeluruh dan sistematik, tidak parsial atau fragmentis. Keperawatan sebagai suatu sistem merupakan satu kesatuan yang utuh dengan bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain. Keperawatan dapat diartikan sebagai keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam usaha mencapai tujuan akhir.

Keperawatan dapat digambarkan sebagai kesatuan subsistem dan membentuk satu sistem yang utuh. Sitem pendidikan ini memperoleh input dari suprasistem (masyarakat atau lingkungan) dan memberikan output bagi suprasistem tersebut. Subsistem yang membentuk sistem keperawatan adalah tujuan, klien, manajemen, struktur dan jadwal waktu, asuhan keperawatan, tenaga perawat dan tim kesehatan lain, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian, serta biaya perawatan.

Interaksi fungsional antarsubsistem keperawatan disebut sebagai proses keperawatan. proses keperawatan dapat terjadi dimana saja, tidak terbatas lingkungan rumah sakit dan pusat kesehatan lainnya. Melalui proses keperawatan diperoleh hasil (output) keperawatan. hasil keperawatan adalah asuhan keperawatan yang sudah diberikan kepada klien berdasarkan tujuan keperawatan yang telah ditetapkan. Tujuan keperawatan masing-masing tingkatan perawatan ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan bermuara pada tujuan kesehatan nasional.

Beberapa penerapan sistem keperawatan :

ü Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Keperawatan Dalam memberikan asuhan keperawatan yang potensial kepada klien. Asuhan Keperawatan saling berhubungan dengan tim pelayanan kesehatan lainnya seperti dokter, radiologi, klien/pasien, IPTEK, tim rumah tangga di RS, gizi, laboratorium, dan sistem pendukung lainnya.

ü Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Keperawatan

ü Penerapan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan keperawatan juga saling berhubungan dengan pelayanan lainnya seperti IPTEK, AIPNI, PPNI, Penyelenggara pendidikan keperawatan, kebutuhan masyarakat, kebijakan pendidikan nasional keperawatan, dan profesi lain.

ü Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pengembangan Profesi Keperawatan

ü Penerapan sistem ini berhubungan dengan masyarakat, kebijakan nasional, PPNI, faktor lain, AIPNI, IPTEK, institusi pendidikan keperawatan. Dengan bekerjasama bersama peleyanan-pelayanan lainnya sehingga pengembangan profesi keperawatan dapat berjalan dengan lancar.

ü  Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Secara Umum

Pelayanan kesehatan dalam penerapannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pendidikan dan manajemen, kebutuhan pelayanan kesehatan, konsep kesehatan, tujuan pembangunan kesehatan, IPTEK, dan berbagai profesi kesehatan.

F. Pengaruh pada Pelayanan Kesehatan ditinjau dari persfektif Sistem

 Internal

  1. Bagi profesi dengan pendekatan sistem dan proses keperawatan, perawat dapat mempertanggung jawabkan tugasnya sesuai dengan standar. Jadi akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan profesi Keperawatan secara keseluruhan.
  2. Bagi Perawat akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan kecintaan pada profesi.
  3. Kemampuan memanfaatkan hasil/keluaran dari pendidikan
  4. Kemampuan dalam pengadaan dan pengembangan sumber daya pendidikan.

 Eksternal

  1. Bagi Klien dapat memfasilitasi keterlibatan klien dan keluarga dalam perawatan disetiap tahapan proses keperawatan.
  2. Tekanan dan Tuntutan kebutuhan Masyarakat
  3. Perkembangan global Keperawatan Profesional

 

KESIMPULAN

Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan alat yang memiliki hubungan diantara mereka. Sistem secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sesuatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dengan demikian keperawatan, dapat diartikan sebagai satu keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam upaya mencapai tujuan akhir.

Komponen Sistem dalam keperawatan meliputi Manusia, Lingkungan, Kesehatan, Keperawatan. Manusia adalah makhluk bio-psikososial yang utuh dan unik yang mempunyai kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual. Manusia selalu hidup dalam suatu lingkungan tertentu meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Dalam sistem terdapat input (masukan), proses, Output (hasil/Keluaran) dan umpan balik. Pendekatan sistem merupakan satu cara yang memandang keperawatan secara menyeluruh dan sistematik, tidak parsial dan Fragmentis.

Beberapa penerapan sistem keperawatan :

a. Penerapan sistem dalam penyelenggaraan pelayanan keperawatan

b. Penerapan sistem dalam penyelenggaraan Pendidikan Keperawatan

c. Penerapan sistem dalam penyelenggaraan pengembangan Profesi Keperawatan

d. Penerapan sistem dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan secara umum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By Aking Zerzawa

Dinamika Kelompok

  1. Definisi Dinamika Kelompok

Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui asal katanya, yaitu dinamika dan kelompok.

Pengertian dinamika

Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) terus-menerus ada dalam kelompok itu, oleh karena itu kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah.

Pengertian kelompok

Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama. Menurut W.H.Y. Sprott mendefinisikan kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain. Kurt Lewin berpendapat ”the essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its members but their interdependence”. H. Smith menguraikan bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antar anggota kelompok dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok:

    • Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut
    • Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya
    • Adanya saling menghargai pendapat anggota lain
    • Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota kelompok

Menurut Reitz (1977) kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Terdiri dari dua orang atau lebih
  • Berinteraksi satu sama lain
  • Saling membagi beberapa tujuan yang sama
  • Melihat dirinya sebagai suatu kelompok

Kesimpulan dari berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok adalah kelompok tidak terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Pengertian dinamika kelompok

Dinamika kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama. Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah. Dinamika kelompok mempunyai beberapa tujuan, antara lain:

  • Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok terhadap anggota kelompok lain, sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai
  • Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati dan saling menghargai pendapat orang lain
  • Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok
  • Menimbulkan adanya i’tikad yang baik diantara sesama anggota kelompok.

Proses dinamika kelompok mulai dari individu sebagai pribadi yang masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, belum mengenal antar individu yang ada dalam kelompok. Mereka membeku seperti es. Individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mengenal individu yang lain. Es yang membeku lama-kelamaan mulai mencair, proses ini disebut sebagai “ice breaking”. Setelah saling mengenal, dimulailah berbagai diskusi kelompok, yang kadang diskusi bisa sampai memanas, proses ini disebut ”storming”. Storming akan membawa perubahan pada sikap dan perilaku individu, pada proses ini individu mengalami ”forming”. Dalam setiap kelompok harus ada aturan main yang disepakati bersama oleh semua anggota kelompok dan pengatur perilaku semua anggota kelompok, proses ini disebut ”norming”. Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai kegiatan, proses ini disebut ”performing”. Secara singkat proses dinamika kelompok dapat dilihat pada gambar berikut:

Alasan pentingnya dinamika kelompok:

  • Individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat
  • Individu tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kehidupannya
  • Dalam masyarakat yang besar, perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik
  • Masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik apabila lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif

Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain ]:

  1. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup.
  2. Memudahkan pekerjaan.
  3. Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai bagian kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian.
  4. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.
  1. 5.      Jenis kelompok sosial

Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial serta ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada

Kelompok Primer

Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain

Kelompok Sekunder

Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.

Kelompok Formal

Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada.[1] Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART

Kelompok Informal

Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati Misalnya: kelompok arisan

Ciri

Suatu kelompok dapat dinamakan kelompok sosial, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama)
  2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain(akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat)
  3. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing.
  4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Pembentukan Kelompok

Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok.

Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota).Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik) Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.

Langkah proses pembentukan Tim diawali dengan pembentukan kelompok, dalam proses selanjutnya didasarkan adanya hal-hal berikut:

Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat dari pencapaian akademis.Misalnya terdapat satu atau lebih punya kemampuan intelektual, atau yang lain memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik.Dengan demikian diharapkan anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.

Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang ada pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal secara sehat. Dengan demikian dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu pengetahuan agar bisa memotivasi diri untuk maju.

Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas kelompok atau individu.

Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efisien dan efektif.

Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama kegiatan.Namun demikian kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati kelompok.

Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan interaksi akan ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas kebutuhan akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

Pertumbuhan dan Perkembangan Kelompok

Indikator yang dijadikan pedoman untuk mengukur tingkat perkembangan kelompok adalah sebagai berikut:

1. Adaptasi Proses adaptasi berjalan dengan baik bila:

a) Setiap individu terbuka untuk memberi dan menerima informasi yang baru

b) Setiap kelompok selalu terbuka untuk menerima peran baru sesuai dengan dinamika kelompok tersebut.

c) Setiap anggota memiliki kelenturan untuk menerima ide, pandangan, norma dan kepercayaan anggota lain tanpa merasa integritasnya terganggu.

2. Pencapaian tujuan Dalam hal ini setiap anggota mampu untuk:

a) menunda kepuasan dan melepaskan ikatan dalam rangka mencapai tujuan bersama 

b) membina dan memperluas pola 

c) terlibat secara emosional untuk mengungkapkan pengalaman, pengetahuan dan kemampuannya

Selain hal diatas, perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi yang terjadi dalam kelompok.  Dengan demikian perkembangan kelompok dapat dibagi menjadi tiga tahap, antara lain :

1. Tahap pra afiliasi Merupakan tahap permulaan, diawali dengan adanya perkenalan semua individu akan saling mengenal satu sama lain. Kemudian hubungan berkembang menjadi kelompok yang sangat akrab dengan saling mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota.

2. Tahap fungsional Ditandai dengan adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain, tercipta homogenitas, kecocokan, dan kekompakan dalam kelompok. Pada akhirnya akan terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

3. Tahap disolusi Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelompok sudah mempunyai rasa tidak membutuhkan lagi dalam kelompok. Tidak ada kekompakan maupun keharmonisan yang akhirnya diikuti dengan pembubaran kelompok.

 

 

Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok

Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut

1. Kelebihan Kelompok

  • Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi
  • Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.

2. Kekurangan Kelompok Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

Referensi

  1. Fred R. Kerlinger, 1964. Foundations of behavioral research. New York: Holt Rinehart and Winston.page.
  2. Kamanto Sunarto. 1992. Sosiologi Kelompok. Jakarta: Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia.
  3. George C. Homans, The Human Group (New York: Harcourt, Brace and Company, 1950),
  4. Alvin A Goldberg,.1985. Komunikasi kelompok. Jakarta: UI-Press.
  5. Hidayat, AAA. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
  6. Slamet. Santosa, 1992. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara.
  7. P. Robbins, Stephen. 1983. Organization Theory: Structure, Design, and Application. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
  8. Soerjono. Soekanto, 1986. Pengetahuan Sosiologi Kelompok. Bandung: Penerbit Remadja Karya CV.

 

 

By Aking Zerzawa

APLIKASI TEORI IDA JEAN ORLANDO DALAM ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

A. Latar Belakang Masalah

 

                  Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan  suatu bentuk  pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu keperawatan. Pada perkembangannya  ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain, mengingat ilmu keperawatan  merupakan ilmu terapan yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman.

                  Demikian juga dengan pelayanan keperawatan di Indonesia, kedepan diharapkan harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang  kesehatan yang senantiasa berkembang. Pelaksanaan asuhan keperawatan di sebagian besar  rumah sakit Indonesia umumnya telah menerapkan pendekatan ilmiah melalui proses keperawatan.

               Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebagai salah satu rumah sakit pendidikan  di Indonesia, dari hasil pengamatan penulis selama melaksanakan bimbingan praktek klinik keperawatan, telah melaksanakan asuhan keperawatan yang kembangkan dengan mengacu pada pedoman standar praktek pelaksanaan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. dimana standar praktik tersebut mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yang terdiri dari 5 standar : Pengkajian, Diagnosis keperawatan, Perencanaan, Implementasi, dan  Evaluasi. (PPNI, 2000 hlm 57). Pelaksanaan asuhan keperawatan tersebut merupakan aplikasi unsur dan konsep dari beberapa teori dan model keperawatan yang di adopsi, digabung, dikembangkan serta  dilaksanakan. Kemungkinan diantaranya  teori dan model yang mewarnai asuhan keperawatan yaitu teori yang dikemukakan oleh Ida Jean Orlando yang dikenal dengan teori proses keperawatan atau disiplin proses keperawatan.

                  Dalam teorinya Orlando mengemukanan tentang beberapa konsep utama, diantaranya adalah konsep disiplin proses keperawatan ( nursing process discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi  permasalahan klien  yang disampaikan  kepada perawat,  menanyakan  untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006: 434)

                  Orlando juga menggambarkan mengenai disiplin nursing proses sebagai  interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk  membantunya serta untuk melakukan  tindakan yang tepat (George, 1995 ;162)

               Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mencoba membuat uraian mengenai lebih jauh  mengenai Aplikasi Teori Keperawatan Ida Jean Orlando “Nursing Procces Theory” Dalam Asuhan dan Pelayanan Keperawatan Di Rumah Sakit.

 

 

  1. Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando

Ida Jean Orlando Pelletier lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey. Ia telah aktif berkarir sebagai pelaksana , pendidik, peneliti dan konsultan dalam bidang keperawatan. Pada awal karirnya ia bekerja sebagai staf keperawatan diberbagai bidang seperti obstetri, perawatan penyakit dalam dan bedah, serta di ruang emergenci. Ia juga telah menjabat sebagai suvervisor dan menjabat sebagai asisten dua direktur keperawatan. Ia diterima di Diploma Keperawatan di New York tahun 1947,  medapat gelar Bachelor of Nursing pada tahun 1951 dari Universitas di Brooklyn New York, Pada tahun 1954 menerima  MA di mental health consultation dari Universitas Colombia. Buku pertamanya yang dipublikasikan pada tahun 1961dan diprint ulang pada tahun 1990  yaitu  hubungan dinamis perawat-pasien  : fungsi, prinsip dan proses. Ia juga menjabat sebagai pimpinan graduate program dalam kesehatan mental dan psikiatri nursing di Yale. Orlando juga  aktif dibebagai organisasi seperti pada Massachusetts Nurses’ Associations dan di Harvard Community Health Plan. Ia juga sebagai dosen dan konsultan pada berbagai institusi keperawatan.

Asumsi Orlando terhadap metaparadigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) medapatkan dari tulisan Orlando mengenai  empat area yang ditekuninya :

 

 1. Perawat

      Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien,  reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien

  1. Manusia

      Manusia bertindak atau berperilaku  secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.

  1. Sehat

      Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.

4.   Lingkungan

      Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya mempersepsikan, berfikit, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

 

B. Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan

Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Dan sebagai orang  pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting dari partisipasi  pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando menyebutnya sebagai ”nursing procces discipline”. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.

               Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegaraan, disiplin proses keperawatan serta kemajuan

      1.   Tanggung jawab perawat

            Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam medapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui  kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar peran  profesionalnya, aktivitas perawat  profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai  tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada  aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya.  

      2.   Mengenal perilaku pasien

            Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.

      3.   Reaksi segera

            Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir dan merasakan.

      4.   Disiplin proses keperawatan

            Menurut George  (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan sebagai  interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk  membantunya serta untuk melakukan  tidakan yang tepat.

      5.   Kemajuan / peningkatan

            Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.

C.  Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan

                        Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi  permasalahan klien  yang disampaikan  kepada perawat,  menanyakan  untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006 hlm 434). Disiplin proses keperawatan didasarkan pada ” proses bagaimana seseorang bertindak”. Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien  adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan.

      1.   Perilaku Pasien                                   

            Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan  perilaku pasien . seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini pada prinsip pertamanya ” dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukan pasien membutuhkan suatu batuan”.

            Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan faktor  kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukan perlunya pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien, ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang  untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci

      2.   Reaksi Perawat

            Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini tertidiri dari 3 bagian yaitu  pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian

            Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir simultan. Oleh karena itu perawat harus relajar mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang menentukan mengana ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien.

            Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam hal berbagi “ beberapa observasi dilakukan  dan dieksporasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu.

            Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;

  1. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya dan mengatakan  perilaku nonverbalnya epada pasien
  2. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya  dengan jelas terhadap apa yang akan diekspresikannya
  3. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi.

      3.   Tindakan Perawat

            Setelah mevalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya.

            Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya tindakan terencana  yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:

  1. tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
  2. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan pasien.
  3. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
  4. Perawat  membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika melakukan tindakan.

Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi  reaksi perawat

4.   Fungsi profesional

                     Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat  perawat dalam menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivias termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.

                     Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien  dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, dan perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat membantu pasien untuk menggunakan proses yang sama agar lebih efektif perlu komunikasinya. Selajutnya tidakan yang sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan anatar pasien dan perawat. Setelah perawat bertindak , perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan bahwa perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan reaksinya terhadap pasien.

 

 

 

APLIKASI TEORI  PROSES KEPERAWATAN ORLANDO DALAM ASUHAN  KEPERAWATAN  DI RUMAH SAKIT

 

Praktisi keperawatan dalam melaksanakan fungsinya perlu menerapkan  teori atau model yang sesuai dengan situasi tertentu. Pada kondisi awal, kombinasi dari beberapa teori atau model dapat dipertimbangkan, tetapi jika dipergunakan secara konsisten  dapat dilakukan analisa atau evaluasi terhadap  efektivitasnya. Dengan menggunakan berbagai teori dan model keperawatan, maka fokus dan konsekwensi praktek keperawatan dapat berbeda .

Dibawah ini merupakan gambaran aplikasi disiplin proses keperawatan Orlando pada penderita SKA STEMI  1 jam setelah mendapat serangan.

A. Gambaran Kasus

Tn  X usia 45 tahun satu jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri menjalar ke leher, rahang, lengan serta ke punggung sebelah kiri. Nyeri dirasakan seperti tertekan benda berat. Nyeri menetap walaupun telah diistirahatkan. Nyeri dirasakan terus menerus lebih dari 30 menit. Kemudian oleh keluaga dibawa ke UGD RSHS.

            Klien sebelumnya belum pernah dirawat atau sakit berat tetapi memiliki kebiasaan kurang olah raga, riwayat merokok berat 2 bungkus per hari, klien adalah seorang kepala keluarga dan bekerja sebagai seorang meneger di salah satu perusahaan.

            Hasil pemeriksaan fisik : kesadaran kompos mentis, tekanan darah 140/90 mmHg, Nadi 98 kali/pemit, respirasi 30 kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar keringat. Hasil pemeriksaan EKG menunjukan adanya ST elevasi. Hasil Laboratorium terdapat enzim troponin T  positip dan CKMB meningkat. Oleh dokter klien didiagnosa sindroma koroner akut dengan ST elevasi Miocard infark.

 

  1. Peaksanaan Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori Proses Keperawatan Orlando.

      Pada kasus Tn X tersebut diatas maka perawat harus segera bereaksi terhadap perilaku pasien baik secara perbal maupun non verbal, melakukan validasi,  membagi bereaksi terhadap perilaku pasien  dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membantu pasien untuk mengurangi ketidaknyamanan baik fisik maupun psikologis, ketidakmampuan pasien dalam menolong dirinya, serta mengevaluasi tindakan perawatan yang sudah dilakukannya. Semua itu dapat diterapkan melalui pendakaan disiplin proses keperawatan Orlando sebagai berikut :

  1. Fase Reaksi Perawat.

Menutut George (1995) bahwa reaksi perawat dimana terjadi berbagi reaksi perawat dan perilaku pasien dalam disiplin proses keperawatan  teori Orlando identik dengan fase pengkajian pada proses keperawatan.

Pengkajian difokuskan terhadap data-data yang relatif menunjukan kondisi yang emergenci dan membahayakan bagi kehidupan pasien, data yang perlu dikaji pada kasus diatas selain nyeri dada yang khas terhadap adanya gangguan sirkulasi koroner, juga perlu dikaji lebih jauh adalah bagaimana kharakteristik nyeri dada meliputi apa yang menjadi faktor  pencetusnya, bagaimana kualitasnya, lokasinya, derajat dan waktunya. Disamping itu dapatkan juga data adakah kesulitan bernafas, rasa sakit kepala, mual dan muntah yang mungkin dapat menyertai keluhan nyeri dada.

      Perawat perlu mengkaji perilaku pasien  non verbal yang menunjukan bahwa pasien memerlukan pertolongan segera seperti : tanda-tanda vital, pada kasus didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 98 kali/menit, respirasi 30 kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar keringat. Perlu juga dikaji bagaimana kondisi akral apakah hangat atau dingin, CRT, kekuatan denyut nadi,  Selanjutnya perawat perlu mengetahui data-data lain seperti catatan dari tim kesehatan lain, hasil laboratorium dan pemeriksaan diagnostik. Pada kasus didapatkan : EKG ST elevasi, diagnosa medis SKA STEMI. Troponin T positif, CKMB meningkat.

  1. Fase Nursing Action

Fase perencanaan pada proses keperawatan, sesuai dengan fase nursing action pada disiplin proses keperawatan mencakup sharing reaction (analisa data), diagnosa keperawatan,  perencanaan dan  tindakan keperawatan atau implementasi . Tujuannya adalah selalu mengurangi akan kebutuhan pasien terhadap bantuan serta berhubngan dengan peningkatan perilaku pasien.

Setelah mendapatkan data-data yang menunjukan perilaku pasien, menurut Orlando perawat perlu melakukan sharing reaction yang identik dengan analisa data, sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan.

  1. a.    Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan difokuskan terhadap masalah ketidak mampuan pasien untuk memenuhi kebutuhannya sehingga perlu pertolongan perawat. Dari data yang didapatkan pada kasus Tn X ditemukan masalah :

1)      Ketidakmampuan pasien menolong dirinya dalam memelihara perfusi jaringan otot jantung (berhubungan dengan penurunan aliran darah sekunder terhadap obstruksi.)

2)      Ketidakmampuan  pasien menolong dirinya dalam mengatasi  rasa nyeri (berhubungan dengan adanya iskemik)

3)      Ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas fisik (berhubungan dengan ketidaksimbangan suplai dan kebutuhan akan oksigen)

b.   Rencana Keperawatan     

Setelah masalah keperawatan pasien ditentukan disusun rencana keperawatan, fokus perencanaan pada pasien Tn X yaitu Rencana Tn X sendiri, dengan merumuskan tujuan yang saling menguntungkan baik pasien maupun perawat sehingga terjadi peningkatan perilaku Tn X kearah yang lebih baik.  Adapun tujuannya yang diharapkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada  Tn X yaitu  mampu  menolong dirinya memelihara perfusi otot jantung secara adekuat,  pasien mampu menolong dirinya untuk mengatasi rasa nyeri, serta mampu melakukan pemenuhan aktivitas tanpa harus memberatkan kerja jantung.

c.   Implementasi

Fokus implementasi adalah efektifas tindakan untuk menanggulangi yang sifatnya mendesak, terdiri dari tindakan-tindakan  otomatis seperti melaksanakan tindakan pengobatan atas instruksi medis dan dan tindakan terencana terencana yang dianggap sebagai peran perawat profesional sesungguhnya.. Adapun implementasi  keperawatan yang perlu dilakukan pada Tn X yaitu :

1). Membantu pasien dalam menolong dirinya untuk memelihara perfusi jaringan otot jantung

 

a.) Tindakan Otomatis:

(1). Berikan therapi nitrogliserin sesuai program therapi

(2)  Berikan therapi aspirin sesuai program therapi

(3). Persiapkan klien untuk therapi trombolitik sesuai program

(4). Persiapkan pasien untuk pelaksanaan PTCA sesuai program terapi.

(5)  Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

b)   Tindakan terencana

      (1)  Istirahatkan pasien bed rest sampai kondisi akut teratasi dan keadaan stabil.

      (2) Observasi tanda-tanda vital setiap 30 menit atau sesui

      (3)  Observasi tanda-tanda adanya penurunan kardiak output.

   (4). Lakukan pemeriksaan EKG secara rutin

               2). Membantu pasien untuk menolong dirinya menolong dirinya dalam mengatasi  rasa nyeri.

a).  Tindakan otomatis

(1) Memberikan obat anti nyeri : morfin sesuai dengan program therapi.

(2)  Berikan Oksigen melalui nasal canul 4 liter / menit sesuai program therapi

(3)  Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

         b).  Tindakan terencana ;

(1) Istirahatkan pasien : Bed rest sampai dengan kondisi klien stabil.

(2)  Posisikan pasien semi fowler

                              (3) Observasi tanda-tanda vital setiap  30 menit atau sesuai kebutuhan

                              (4)  Observasi perkembangan nyeri : kharakreistik, kwalitas dan kwantitasnya

                              (5) Lakukan tindakan relaksasi dengan menarik nafas dalam dan keluarkan nafas secara perlahan.

                  3).  Membantu pasien untuk menolong dirinya dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari

                        a) Tindakan otomatis

                  (1)  Hindari pasien untuk melakukan mengedan ketika defekasi

                  (2) Observasi tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.

            b). Tindakan terencana

                  (1)  Observasi tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.

                              (2)  Bantu pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari ; nutrisi, personal hygiene, eliminasi.

                               (3)    Lakukan mobilisasi fisik setelah kondisi stabil

     

3    Evaluasi

Evaluasi, pada fase tindakan proses disiplin merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Tindakan- tindakan yang terencana , setelah tidakan lengkap dilaksanakan, perawat harus mengevaluasi keberhasilannya.Evaluasi asuhan keperawatan pada tuan X difokuskan terhadap perubahan perilaku terhadap kemampuan menolong dirinya untuk mengatasi ketidakmampuannya. Evaluasi dilakukan setelah tindakan keperawatan dilaksankan. Adapun hasil yang diharapkan adalah:

         a.   Perfusi jaringan pada otot jantung meningkat atau adekuat, ditandai dengan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas normal, hasil pemeriksaan EKG normal. Nyeri dada tidak ada.

            b.   Rasa nyaman terpenuhi: nyeri berkurang atau tidak ada, ditandai dengan : pasien mengatkan nyeri berkurang atau tidak ada, pasien relak. Tandatanda vital dalam batas normal,

      c    Pasien  mampu melakukan aktivitas sehari-hari : tidak ada keluhan nyeri dada, sesak nafas atau palpitasi saat melakukan aktivitas,  tekanan darah, nadi, respirasi dalam batas normal sebelum, selama dan setelah melakukan.  Aktivitas. Pasien ammpu melakukan aktivitas sendiri dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari : makan, personal higiene dan eliminasi.

                                               

Dengan melihat aplikasi disiplin proses keperawatan pada kasus Tn X yang mengalami gangguan sistem kardiovaskular berhubungan dengan sindroma akut koroner non ST elevasi, penulis mencoba untuk membahas pelaksanaan aplikasi teori tersebut dengan membandingkan dengan proses keperawatan  

Pada kedua proses tersebut, pada bagian tertentu secara keseluruhan sama. Misalnya keduanya merupakan hubungan interpersonal  dan membutuhkan interaksi antara pasien dan perawat. Pasien sebagai input dalam keseluruhan proses. Kedua proses menggambarkan pasien sebagai total person. Tidak selalu tentang penyakit atau bagian tubuh. Kedua proses juga menggunakan metode tindakan keperawatan  dan mengevaluasi tindakan tersebut.

                  Fase pengkajian pada proses keperawatan sesuai dengan berbagi pada reaksi perawat dengan perilaku pasien dalan disiplin proses keperawatan orlando. Perilaku pasien mengawali pengkajian. Perilaku yang dikaji adalah perilaku verbal yang dikatakan oleh pasien yaitu riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan utama, bagaimana keluhan itu dirasakan, bagaimana sifat dan kwalitas keluhan tersebut. Apa faktor pencetusnya. Dan faktor resiko terhadap terjadinya gangguan kesehatan. Sedangkan perilaku non verbal yang perlu diketahui oleh perawat adalah tanda-tanda dari gangguan fungsi tubuh sebagai respon pasien terhadap tidak terpenuhinya kebutuhan yang membutuhkan pertolongan perawat, seperti perubahan tanda-tanda vital, keluar keringat yang berlebihan, ketidaknormalan fungsi tubuh seperti yang ditunjukan oleh hasil pemeriksaan penunjang EKG, pemeriksaan enzim roponin dan lain sebagainya.  

                  Berbagi pada reaksi perawat dalam disiplin nursing proses adalah komponen yang sama dengan analisis pada proses keperawatan. Walaupun reaksi perawat adalah otomatis. Hal ini sedikit berbeda dengan analisa data  pada proses keperawatan dimana seorang perawat untuk mampu melakukan analisa data perlu menggunakan dasar teori keperawatan dan menggunakan prinsip dari pengetahuan fisik dan perilaku dan itu harus benar-benar menjadi dasar dalam menganalisa berbagai tanda dan gejala yang dirasakan atau ditemukan pada pasien.

                  Fase perencanaan pada proses keperawatan, sesuai dengan fase nursing action pada disiplin proses keperawatan. Tujuannya adalah selalu mengurangi akan kebutuhan pasien terhadap bantuan. Tujuannnya berhubungan dengan peningkatan perilaku pasien. Tujuan yang dirumuskan pada teori Orlanda menurut penulis masih terlalu umum yaitu fokuskan pada perubahan perilaku dalam menolong  untuk  memenuhi kebutuhan dirinya sehingga kemungkinan keberhasilannya sulit untuk diukur terutama terhadap masalah yang hanya diketahui oleh perawat tetapi tidak disadari oleh pasien. Seperti pada contoh kasus Tn X yaitu masalah penurunan perfusi jaringan pada otot jantung.

                  Implementasi meliputi seleksi akhir dan pelaksanaan dari tindakan keperawatan  dan ini juga merupakan bagian dari fase tindakan keperawatan pada proses disiplin Orlando. Kedua proses memerintahkan bahwa tindakan harus sesuai bagi pasien sebagai individu yang unik. Pada Teori orlando tindakan keperawatan ada dua macam yaitu tindakan otomatis yang sifatnya segera dan terencana. Keduanya  tidakan tersebut lebih diarahkan terhadap penanggulangan masalah kperawatan yang bersifat segera dan mengacam kehidupan pasien dan kurang memperhatikan tindakan-tindakan yang bersifat promotif atau preventif yang sebenarnya tidakan preventif seperti : pencegahan serangan ulang dan menghindari faktor resiko adalah penting bagi pasien yang menderita penyakit jantung seperti yang dialami Tn. X.

                  Evaluasi, pada fase tindakan proses disiplin merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Tindakan- tindakan yang terencana , setelah tidakan lengkap dilaksanakan, perawat harus mengevaluasi keberhasilannya. Evaluasi pada teori Orlando sudah cukup baik, yang mana evaluasi selalu dilakukan setelah setiap tindakan keperawatan dilakukan secara lengkap.

 

 

KESIMPULAN

                  Proses keperawatan dan proses disiplin Orlando keduanya menggambarkan rangkaian tahapan. Setiap tahapan sama-sama tidak terpisah. Pada proses disiplin Orlando hampir secara berkesinambungan saling mempengaruhi dimana perilaku pasien menjadi tujuan reaksi perawat, mengarahkan perilaku perawat, mengarahkan reaksi pasien. Kedua proses tersebut merupakan proses dinamis dan responsif terhadap perubahan kondisi pasien.

                  Proses keperawatan dan proses disipin Orlando mempunyai banyak persamaan. Proses keperawatan panjang dan lebih formal dan fasenya lebih mendetail  dibandingkan proses disiplin Orlando. Dan membutuhkan perawat untuk menggunakan pengetahuan dan prinsip keilmuan dan teori keperawatan. Orlando hanya membutuhkan bahwa perawat harus mengikuti  prinsip-prinsip yang ia tetapkan.


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Doengoes, M. E. (2002). Nursing care plane: Guidelines for planning & documenting patient care, 3rd edition, FA. Davis.

George. (1995). Nursing Theories (The Base for Profesional Nursing Practice), Fourth Edition. USA : Appleton & Lange.

Hidayat AA. (2004). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam.  (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik. Jakarta : Salemba

PPNI (2000) Standar Praktik Keperawatan. Jakarta :  PPNI.

Tomey Ann Marriner, Alligood M.R.(2006). Nursing Theorists and Their work. 6

            Ed. USA : Mosby Inc.

http://www.sandiego.edu/acamics/nursing/theory/Orlando

 

 

 

 

 

 

By Aking Zerzawa

Keutamaan malam Jum’at dan hari Jum’at

Malam Jum’at adalah malam yang paling utama, harinya adalah hari yang paling utama dari semua hari.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya malam Jum’at dan harinya adalah 24 jam milik Allah Azza wa Jalla. Setiap jamnya ada enam ratus ribu orang yang diselamatkan dari api neraka.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang mati di antara matahari tergelincir hari Kamis hingga matahari tergelincir hari Jum’at, Allah melindunginya dari siksa kubur yang menakutkan.”

Imam ja’far Ash-Shadiq (sa) juga berkata: “Malam Jum’at dan hari Jum’at mempunyai hak, maka janganlah sia-siakan kemuliaannya, jangan mengurangi ibadah, dekatkan diri kepada Allah dengan amal-amal shaleh, tinggalkan semua yang haram. Karena di dalamnya Allah swt melipatgandakan kebaikan, menghapus kejelekan, dan mengangkat derajat. Hari Jum’at sama dengan malamnya. Jika kamu mampu, hidupkan malam dan siangnya dengan doa dan shalat. Karena di dalamnya Allah mengutus para Malaikat ke langit dunia untuk melipatgandakan kebaikan dan menghapus keburukan, sesungguhnya Allah Maha Luas ampunan-Nya dan Maha Mulia.”

Dalam hadis yang mu’tabar, Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya orang mukmin yang memohon hajatnya kepada Allah, Ia menunda hajat yang dimohonnya hingga hari Jum’at agar ia memperoleh keutamaan yang khusus (dilipatgandakan karena keutamaan hari Jum’at).”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ketika saudara Yusus meminta kepada Ya’qub agar ia memohonkan ampunan untuk mereka, ia berkata, Tuhanku akan mengampunimu. Kemudian ia mengakhirkan istighfarnya hingga dini hari Jum’at agar permohonannya diijabah.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jika malam Jum’at tiba semua binatang laut dan binatang darat mengangkat kepalanya seraya memanggil dengan bahasanya masing-masing: Wahai Tuhan kami, jangan siksa kami karena dosa-dosa anak cucu Adam.”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Allah swt memerintahkan kepada Malaikat agar pada setiap malam Jum’at ia menyeru dari bawah Arasy dari awal malam hingga akhir malam: Tidak ada seorang pun hamba mukmin yang berdoa kepada-Ku untuk keperluan akhirat dan dunianya sebelum terbit fajar kecuali Aku mengijabahnya, tidak ada seorang pun mukmin yang bertaubat kepada-Ku dari dosa-dosanya sebelum terbit fajar kecuali Aku menerima taubatnya, tidak ada seorang pun mukmin yang sedikit rizkinya lalu ia memohon kepada-Ku tambahan rizkinya sebelum terbit fajar kecuali Aku menambah dan meluaskan rizkinya, tidak ada seorang pun hamba mukmin yang sedang sakit lalu ia memohon kepada-Ku untuk kesembuhannya sebelum terbit fajar kecuali Aku memberikan kesembuhan, tidak ada seorang hamba mukmin yang sedang kesulitan dan menderita lalu ia memohon kepada-Ku agar dihilangkan kesulitannya sebelum terbit fajar kecuali Aku menghilangkannya dan menunjukkan jalannya, tidak ada seorang pun hamba yang sedang dizalimi lalu ia memohon kepada-Ku agar Aku mengambil kezalimannya sebelum terbit fajar kecuali Aku menolongnya dan mengambil kezalimannya; Malaikat terus-menerus berseru hingga terbit fajar.”

Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Sesungguhnya Allah swt memilih Jum’at, lalu menjadikan harinya sebagai hari raya, dan memilih malamnya menjadi malam hari raya. Di antara keutamaannya adalah orang yang momohon hajatnya kepada Allah Azza wa Jalla pada hari Jum’at Allah mengijabahnya; suatu bangsa yang sudah layak menerima azab lalu mereka memohon pada malam dan hari Jum’at Allah pasti menyelamatkan mereka darinya. Tidak ada sesuatu pun yang Allah tentukan dan utamakan kecuali Ia menentukannya pada malam Jum’at. Karena itu, malam Jum’at adalah malam yang paling utama, dan harinya adalah hari yang paling utama.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: ” Jauhilah maksiat pada malam Jum’at, karena pada malam itu keburukan dilipatgandakan dan kebaikan dilipatgandakan. Baransiapa yang meninggalkan maksiat kepada Allah pada malam Jum’at Allah mengampuni semua dosa yang lalu, dan barangsiapa yang menampakkan kemaksiatan kepada Allah pada malam Jum’at Allah menyiksanya dengan semua amal yang ia lakukan sepanjang umurnya dan melipatgandakan siksa padanya akibat maksiat itu.”

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hari Jum’at adalah penghulu semua hari, di dalamnya Allah azza wa jalla melipatgandakan kebaikan, menghapus keburukan, mengangkat derajat, mengijabah doa, menghilangkan duka, dan menunaikan hajat-hajat yang besar. Hari Jum’at adalah hari Allah menambah jumlah orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Tidak ada seorang pun manusia yang memohon perlindungan di dalamnya dan ia mengenal hak-Nya serta yang diharamkan-Nya, kecuali Allah berhak membebaskan dan menyelamatkan ia dari neraka. Jika ia mati pada hari Jum’at atau malamnya, ia mati syahid dan membangkitkan dari kuburnya dalam keadaan aman.Tidak ada seorang pun yang meremehkan apa yang diharamkan oleh
Allah dan menyia-nyiakan hak-Nya, kecuali Allah berhak mencampakkannya ke dalam neraka Jahannam kecuali ia bertaubat.”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Tidak ada terbit matahari yang lebih utama dari hari Jum’at, dan sesungguhnya pembicaraan burung pun jika ia berjumpa dengan yang lain pada hari ini, ia mengucapkan salam, salam kebaikan dan kedamaian.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jika kalian memasuki hari Jum’at, maka janganlah kalian disibukkan oleh sesuatu selain ibadah, karena hari itu adalah hari pengampunan bagi hanba hamba Allah; pada hari Jum’at dan malam Jum’at Allah menurunkan kepada mereka rahmat dan karunia lebih banyak daripada mengambilnya dalam waktu yang singkat.”

 

By Aking Zerzawa

Doa-Doa Harian

Doa Hari Ahad
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Dengan asma Allah
yang tidak aku harapkan kecuali karunia-Nya
tidak aku takutkan kecuali keadilan-Nya
tidak aku percayai kecuali firman-Nya
tidak aku pegangi kecuali tali-Nya
KepadaMu aku berlindung wahai  Pemilik Ridha dan Ampunan

Selengkapnya doa ini berikut teks Arab dan Transiterasi Arab-Latin,

Doa Hari Senin
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Segala puji bagi Allah, yang mencipta langit dan bumi tanpa seorang
saksi, yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu
Tiada sekutu dalam Ilahiyat-Nya, tidak ada setara dalam ketunggalan-Nya
Kelu lidah mengungkap sifat-Nya
Lemah akal memikirkan makrifat-Nya
Merendah segala penguasa karena kehebatan-Nya
Rebah segala wajah karena takut pada-Nya
Jatuh segala yang agung karena keagungan-Nya
Bagi-Mu segala puja
Puja yang beruntun tak putus-putus
Shalawat dan salam bagi Rasul-Nya, salam yang kekal abadi

 

Doa hari Selasa
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Segala puji bagi Allah, pujian hak-Nya, milik-Nya pujian yang banyak
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan diriku, sungguh nafsu menyuruh pada keburukan kecuali yang disayangi Tuhanku
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setan yang menambah dosa-dosaku
Aku berlindung pada Allah dari semua tiran yang durhaka, dari semua musuh yang dominan, dari semua penguasa yang kejam.

Ya Allah
Jadikan aku diantara pasukan-Mu, karena pasukanMu saja yang beroleh kemenangan.
Jadikan aku diantara partaiMu, karena partaiMu saja yang memperoleh kemenangan
Jadikan aku diantara kekasih-kekasihMu, karena kekasihMu saja yang tidak mendapat kecemasan dan kesedihan

Doa Hari Rabu
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Segala puji bagi Allah, Yang menjadikan malam sebagai pakaian dan tidur sebagai peristirahatan dan siang sebagai saat bertebaran
Segala puji bagi-Mu, Kau bangkitkan aku dari tidurku,
Kalau Kau kehendaki, Kau jadikan tidurku tidur abadi, tanpa henti
Milik Allah, makhluk tak terhitung

Ya Allah, bagi-Mu segala puji
Kau ciptakan, Kau takdirkan, Kau tentukan, Kau matikan, Kau hidupkan,
Kau sakitkan, Kau sembuhkan, Kau selamatkan, Kau hancurkan
Di atas singgasana-Mu Kau bertahta
Di atas kerajaan-Mu Kau berkuasa
Kusampaikan pada-Mu doa orang yang lemah tenaganya, yang putus
kekuatannya, yang dekat ajalnya, yang mendunia hasratnya, yang berat
keperluannya akan rakhmatMu,yang besar deritaNya karena dosa-dosanya,
yang banyak jatuhnya dan gelincirnya, yang terpusat padaMu saja taubatnya
 

Doa Hari Kamis

Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Segala puji bagi Allah, Yang Mengusir Malam yang gelap dengan kodrat-
Nya
Yang Menghadirkan Siang yang terang dengan rakhmat-Nya
Yang Menutupku dengan cahayaNya, dan membawa padaku nikmat-Nya

Ya Allah, sebagaimana telah Kau lestarikan aku di siang ini,
lestarikan aku pada siang lain seperti ini
Sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
Jangan Kau celakakan aku hari ini dan hari yang lain malam atau siang
dengan perbuatan yang terlarang dan kelakuan yang tercela
Berikanlah padaku kebaikannya, dan kebaikan apa pun di dalamnya
Palingkan dariku kejelekannya dan kejelekan apa pun di dalamnya dan
kejelekan apapun sesudahnya
 

 

Doa Hari Jum’at
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Segal puji bagi Allah, Yang Awal sebelum penciptaan dan
penghidupan,Yang Akhir setelah punah semua,Yang Maha Tahu,Yang Tak
Melupakan orang yang mengingatNya,
Yang Tidak Merugikan orang yang mensyukuriNya, Yang Tidak Mengecewakan
orang yang memohon padaNya, Yang Tidak Memutuskan harap orang yang
mengharapNya

Ya Allah
Aku mintakan kesaksianMu dan cukuplah Engkau sebagai saksi
Aku mintakan kesaksian seluruh malaikat-Mu penghuni langit-Mu dan pemikul arasy-Mu
serta yang Kau bangkitkan sebagai nabi dan rasul-Mu dan yang Kau ciptakan dari berbagai makhluk-Mu

 

Doa Hari Sabtu
Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Bismillah – kalimat pemegang penjagaan, ucapan pencari perlindungan
A’udzubillah – aku berlindung pada Allah dari kekejaman manusia kejam, dari rekaperdaya manusia dengki, dari kezaliman manusia lalim
Aku memuji Dia di atas pujian semua yang memuji

Ya Allah, Engkau Yang Esa Tiada Tara, Engkau Raja Tiada Dirajai, tak terlawan ketentuanMu, tak tertolak kekuasaanMu

Aku bermohon, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, hambaMu dan utusanMu.
Bimbinglah aku untuk mensyukuri segala nikmat-Mu yang memungkinkan aku mencapai ridhaMu
Bantulah aku menaati-Mu dan melazimkan ibadah pada-Mu, memastikan ganjaran-Mu dengan karunia pertolongan-Mu
Kasihanilah aku, palingkanlah aku dari maksiat pada-Mu, selama Engkau menghidupkan aku, tuntunlah aku pada apa yang bermanfaat bagiku selama Engkau menghidupkan aku
Dengan kitab-Mu, legakan dadaku
Dengan bacaannya, ringankan bebanku
Karuniakan padaku keselamatan agama dan diriku,
Jangan terlantarkan aku dari semua orang yang menjadi kerinduanku
Sempurnakanlah kebaikan-Mu padaku, pada seluruh sisa umurku, seperti
Engkau telah berbuat baik, pada umurku yang telah lalu
Wahai, Yang Terkasih dari segala yang mengasihi

By Aking Zerzawa

Variasi Pola Kalimat

Latar Belakang
Sejumlah materi penting pembelajaran kalimat dalam pertimbangan standar kompetensi mesti dikuasai pembelajar bahasa. Beberapa materi itu diperas dari kompetensi kebahasaan yang mesti dikuasai pembelajar; di antaranya (1) penguasaan kalimat aktif-pasif, (2) penguasaan kalimat berdasarkkan kategori predikat, (3) penguasaan pola kalimat, (4) kalimat majemuk.

Penguasaan (mastery) pelajaran kalimat berdasar pada keempat pembagian di atas menjadi sangat ampuh untuk memahami bahasa Indonesia. Tentu saja penguasaan itu bukan tanpa syarat dan tanpa kekurangan karena penguasaan morfologi menjadi syarat pemahaman pelajaran kalimat dan penguasaan semantik menjadi pelengkap bagi penguasaan kalimat itu.

Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kampus Sumedang adalah bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang merupakan lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). Program PGSD sesuai namanya merupakan institusi yang bertugas menelurkan pengajar di tingkat sekolah dasar. Dari segi jenjang, program PGSD selama ini menelurkan lulusan ahli muda (diploma dua) sesuai dengan kebutuhan pengajar di sekolah dasar dan mulai tahun 2006 ditingkatkan menjadi asisten ahli madya (sarjana strata satu) untuk meningkatkan kualitasnya.

Penguasaan kalimat yang diajarkan di kampus Sumedang merupakan pelajaran yang relevan dengan uraian Badudu (1990) dan Ramlan (1981). Chomsky (dalam Chaer, 1994) mengungkapkan bahwa tata bahasa memang dikembangkan untuk membantu pembelajar memahai bahasa. Demikianlah falsafah bahasa yang sejak dahulu berkembang di tangan Plato dan Aristoteles. Tata bahasa dikembangkan untuk memudahkan pembelajar dalam memahami bahasa.

Penguasaan kalimat bagi pengajar di sekolah dasar merupakan penguasaan yang penting untuk dimiliki. Penguasaan kalimat merupakan salah satu standar kompeteni pembelajar. Di setiap tingkat pengajaran kaimat disampaikan sesuai dengan taraf perkembangan pembelajarnya. Acap kali kurangnya kemampuan penguasaan kalimat menjadi penyebab rusaknya “pemahaman” pembelajar berkenaan dengan bahasa Indonesia. Lebih lanjut pengaruh rusaknya “pemahaman” pembelajar itu berdampak pada keterampilan lainnya seperti berbicara dan menulis. Dengan kata lain, pemahaman kalimat akan membantu pengajar menyampaikan materi di kelas rendah dan di kelas tinggi.

Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua taraf. Taraf pertama berkenaan dengan tingkat hubungan antara pengujian kalimat dengan teknik klos dan pemahaman pola. Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) pengujian kalimat dengan teknik klos dan (2) pengujian pemahaman pola. Taraf kedua penelitian variasi pola kalimat ini berkenaan dengan teknik pengajaran kalimat di PGSD UPI Kampus Sumedang. Dengan kata lain, penelitian taraf kedua ini berkenaan dengan efektifitas pengajaran kalimat dengan materi-materi tertentu.

Metode
Metode penelitian yang digunakan terdiri atas dua bagian. Kedua metode ini dilakukan karena penelitian ini mengalami dua tahap dari dua waktu dan tempat yang berbeda. Tujuan penelitian kedua penelitian ini berbeda sekalipun materi pembelajarannya sama yaitu pembelajaran kalimat. Pada penelitian yang pertama, digunakan teknik korelasi untuk mengetahui hubungan antara tes klos wacana dengan tes pemahaman pola kalimat. Pada penelitian yang kedua, digunakan penelitian tindakan kelas yang relevan dalam membenahi pengajaran-pengajaran kalimat di kelas. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan taraf keberhasilan pengajaran kalimat di kelas dengan mengidentifikasi dan meredusi kekurangan-kekurangannya.

Kalimat dalam Tinjauan Pustaka
Penelitian terdahulu berkenaan dengan kalimat cukup melimpah. Sumber-sumber rujukan berkenaan dengan kalimat (sintaksis) pun menunjukkan perkembangan yang pesat dari penelitian kalimat. Sumber-sumber rujukan yang menguraikan pola kalimat, di antaranya Moeliono (1988), Parera (1988), Wojowasito (1976), Badudu (1990), dan Ramlan (1981). Dalam pembahasannya, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan pola kalimat. Dengan demikian, diperlukan kecermatan untuk membedakan dan argumentasi yang mendasar agar penentuan pola kalimat yang menjadi dasar pembahasan dalam penelitian ini dapat diterima.

Moeliono (1988) mengungkapkan satu istilah yang menarik sebagai bagian dari rujukan untuk penelitian ini. Moeliono mengungkapkan istilah pola dasar kalimat inti. Istilah pola dasar kalimat inti ini berbeda dengan yang diungkap Badudu (1990).

Dalam memahami materi kalimat, terdapat beberapa syarat yang mesti dikuasai pembelajar di antaranya penguasaan kategori kata (kelas kata). Pembahasan kelas kata lebih banyak diperoleh pada materi morfologi. Pembahasan kalimat berdasarkan kategori kata pun di bahas oleh Badudu (1990), Chaer (1994) juga Kridalaksana (1994).

Pembahasan kalimat yang diuraikan para pakar mendorong kemungkinan pengembangan penelitian kalimat. Berdasarkan pembahasan dalam kajian pustaka inilah penelitian ini dilanjutkan.

Hasil Penelitian
Pada penelitian tahap pertama, pengujian kalimat dengan teknik klos mempunyai hubungan yang signifikan sebesar r = 0,5183 dengan pemahaman pola. Nilai hubungan sebesar r = 0,5183 berarti bahwa hubungan antara dua variabel (teknik klos dan pemahaman pola). Melalui penelitian ini pula diperoleh sejumlah varian dari delapan pola dasar Badudu (1990).

Hasil penelitian lainnya diperoleh dari penelitian hatap dua yaitu berupa (1) pengajaran kalimat aktif-pasif, (2) pengajaran kalimat berdasarkan kategori predikat, (3) pengajaran pola kalimat, dan (4) pengajaran kalimat majemuk. Berikut ini adalah penjelasan hasil penelitian itu.

Kalimat Aktif-Pasif
Pembahasan kalimat aktif-pasif akan berkaitan dengan verba dan verba transitif. Dalam pembahasan kalimat aktif akan berhubungan dengan objek karena objek berkaitan dengan verba transitif. Berikut ini pembahasan ringkas berkenaan dengan hasil temuan pengajaran kalimat aktif-pasif.

No. Aktif Pasif
1. Ia minum susu. Susu diminum olehnya.
Susu diminumnya.
2. Saya membeli buku. Buku dibeli oleh saya.
Buku saya beli.
3. Kami mencari mereka. Mereka dicari (oleh) kami.
Mereka kami cari.
4. Mereka mendapati kami. Kami didapati (oleh) mereka.

Kalimat Berdasarkan Kategori Kata
Pembahasan ringkas dari Chaer (1994) dan Parera (1988: 10) yang menguraikan kalimat berdasarkan kategori kata. Parera (1988: 10) menentukan ada lima pola dasar kalimat inti sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. NP + NP Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
2. NP + AP Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
3. NP + VP Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
4. NP + VP + NP Petani mencangkul kebun.
Kami belajar linguistik.
Kakak mengendong adik.
5. NP + VP + NP + NP Ibu membelikan adik boneka
Paman memberikan bibi rumah

Uraian Parera sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Namun dalam kesempatan ini hanya akan dibahas pola dasar kalimat inti Badudu (1990: 32). Temuan dalam penelitian ini lebih relevan dengan uraian Badudu sebagai berikut.

No. Kategori Predikat Contoh Kalimat
1. Verba Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
2. Nomina Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
3. Ajektiva Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
4. Numeralia Harganya seribu rupiah.
IPK-nya 3,60.
5. Preposisi Ia dari Bali.
Uang itu pada saya.
Bapak ke kantor.

Pola Kalimat
Sekalipun tata bahasa yang dipilih seorang pengajar bisa saja berbeda dengan tata bahasa yang dipilih pengajar lain, tata bahasa yang diajarkannya harus memenuhi kriteria ilmiah yaitu empiris. Empiris itu berarti tata bahasa harus bisa dibuktikan secara ilmiah, oleh setiap oraang, di setiap tempat dan pada setiap waktu.

Pengajaran fungsi kalimat merupakan pengetahuan standar yang diajarkan dalam kelas-kelas bahasa bahkan mulai di sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-K, (5) S-P-O-Pel, (6) S-P-O-Pel-K, (7) S-P-O-K, dan (8) S-P-Pel-K. Kedelapan pola dasar itu, dapat diturunkan menjadi varian yang tak terbatas sebagaimana dari 26 huruf latin diturunkan menjadi kata tertulis bahasa Indonesia yang tak terbatas.

Contoh kalimat berdasarkan pola dasar Badudu (1990: 32) ialah sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. S-P Dudi berenang.
Ia menangis.
Harimau binatang buas.
2. S-P-O Libi minum susu.
Binatang itu memanjat pohon.
3. S-P-Pel Ia menangis tersedu-sedu.
Adik bermain bola.
4. S-P-K Cincin itu terbuat dari emas.
Bapak pergi ke kantor.
5. S-P-O-Pel Saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan.
Mereka menamai anak itu Sarah.
6. S-P-O-Pel-K Setiap pagi ibu membuatkan kami nasi goreng.
Ia mengirimi ibunya uang setiap bulan.
7. S-P-O-K Libi minum susu setiap pagi.
Binatang itu memanjat pohon untuk tidur.
8. S-P-Pel-K Ia menangis tersedu-sedu ketika mendengar berita itu.
Adik bermain bola di lapangan.

Banyak sumber yang mewakili teori fungsi kalimat bahasa Indonesia di antaranya adalah buku Sugono (1986) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) (1998), Ramlan (1981), Badudu (1990), Parera (1988) dan Alisyahbana (1953).

Kalimat Majemuk
Pengajaran kalimat majemuk akan lebih mudah dijembatani dengan pengajaran konjungsi (kata sambung). Melalui pengajaran konjungsi itu, pembelajar diperintahkan untuk membuat kalimat. Kalimat yang dibuat pembelajar itu diuraikan klausanya, selanjutnya diuraikan pula polanya.

No. Konjungsi Kalimat Pola
1. dan Ia pergi dan takkan kembali S-P//P
2. walau Walau lelah dilakukannya juga pekerjaan itu. #P#(K)//P-S
3. bahwa Ia berkata bahwa ia mencintaiku. S-P-(Pel)#S-P#
4. bahkan Ia tidak hanya membentak bahkan juga memukul S-P-(K)#P#
5. karena Ia tidak hadir karena hujan turun. S-P-(K)#S-P#

Pengajaran kalimat, di samping sangat penting juga sangat menarik untuk diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Penguasaan kalimat akan mempermudah pemahaman serta mengurangi kekeliruan dalam berbahasa. Hilangnya suatu fungsi dalam kalimat akan menyebabkan kalimat yang dibentuk penutur menjadi keliru. Karena itu penguasaan kalimat akan mengurangi kekeliruan dalam berbahasa.

Rekomendasi
Pembahasan ihwal perilaku pelengkap merupakan penelitian lebih lanjut yang direkomendasikan karena dalam penelitian ini diperoleh perilaku pelengkap yang menarik untuk diamati. Sekalipun beberapa peneliti telah melakukan kerja ilmiahnya berkenaan dengan perilaku pelengkap, penelitian ihwal perilaku pelengkap tetap memberikan peluang bagi setiap pengajar bahasa untuk menelitinya. Masih ada peluang untuk menutupi kekurangan dari penelitian sebelumnya untuk menyempurnakan teori kebahasaan yang berkembang dari khazanah perilaku berbahasa masyarakat.

 

By Aking Zerzawa

INSTRUMEN PENELITIAN

INSTRUMEN PENELITIAN
Dalam sebuah penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk
mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik peneliti akan lebih
banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key
instrumen.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan
demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada
jumlah variabel yang diteliti.
A. Pengertian Intrumen Penelitian
Instrumen itu merupakan alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan
penelitian memiliki arti pemeriksaan, penyelidikan, kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis
dan penyajian data secara sistematis dan objektif. Dengan masing-masing pengertian kata
tersebut di atas maka instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk
mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah,
menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan
memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa
mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian. Instrumen penelitian digunakan
untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrument yang akan
digunakan tergantung pada jumlah variable yang diteliti. Jadi jika variable yang digunakan
jumahnya 3, maka instrumen yang digunakan juga 3 jumlahnya .
Instrumen merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian. Hal ini
karena perolehan suatu informasi atau data relevan atau tidaknya, tergantung pada alat ukur
tersebut. Oleh karena itu, alat ukur penelitian harus memiliki validitas dan reliabilitas yang
memadai
Instrumen penelitian dirancang untuk satu tujuan penelitian dan tidak akan bisa
digunakan pada penelitian lain. Kekhasan setiap obyek penelitian membuat seorang peneliti
harus merancang sendiri instrumen yang akan digunakannya. Susunan instrumen untuk setiap
penelitian tidak selalu sama dengan penelitian yang lain. Hal ini disebabkan karena setiap
penelitian mempunyai tujuan dan mekanisme kerja yang berbeda-beda.
Dalam mekanisme pengumpulan informasi dalam penelitian sosial dilakukan secara
langsung dengan berbagai cara, yang antara lain melalui teknik wawancara (baik secara
langsung maupun dengan telepon), survey, pengamatan dan angket.
Teknik angket dilakukan dengan meminta informasi dari responden mengenai sesuatu
masalah dengan sukarela. (Perbedaan antara teknik angket dan survey terletak pada
penentuan responden yang memang tidak akan sama).
Teknik survey dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan kepada
responden. Kemudian responden didatangi oleh pencacah untuk menanyakan informasi yang
diminta serta dicatat dalam daftar kuesioner yang telah disiapkan.
Teknik wawancara dilakukan dengan mendatangi secara langsung para responden untuk
dimintai keterangan mengenai sesuatu yang diketahuinya (bisa mengenai suatu kejadian,
fakta, maupun pendapat si responden).
Apapun teknik pengumpulan informasi yang dipilih penelitian sosial yang melibatkan
banyak orang, membutuhkan suatu instrumen penelitian, yang nantinya akan digunakan
dalam proses pengumpulan informasi dari responden.
Kegunaan instrumen penelitian antara lain :
Suatu alat ukur atau instrumen dikembangkan untuk menterjemahkan variabel (peubah),
konsep dan indikator yang dipergunakan dalam mengungkap data dalam suatu penelitian.
Semakin suatu peubah, konsep, dan indikator penelitian diukur dengan baik, maka akan
semakin baik pula instrumen penelitian tersebut dikembangkan.. Secara sederhana fungsi dari
instrumen penelitian
(1) sebagai alat pencatat informasi yang disampaikan oleh responden
(2) sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara dan
(3) sebagai alat evaluasi terhadap hasil penelitian dari staff peneliti.
Beberapa jenis instrumen dalam suatu penelitian adalah sebagai berikut :
· Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan
untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh individu atau kelompok.
· Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atu halhal
yang ia ketahui.
· Wawancara (Interviw)
Interview digunakan oleh peneliti unyuk menilai keadaan seseorang, misalnya
untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan,
perhatian, sikap terhadap sesuatu.
· Observasi
Didalam artian penelitian observasi adalah mengadakan pengamatan secara
langsung, abservasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan
rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin
timbul dan akan diamati.
· Skala bertingkat (ratings)
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyaktif yang dibuat
bersekala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup
memberikan informasi tertentu tentang program atau orang. Intrumen ini depat
dengan mudah menberikan gambaran penampilan, terutama panampilan didalam
orang menjalankan tugas, yang menjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Didalm
menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel
skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden.
· Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis.
Didalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda
tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan
sebagainya.
Metode – metode pengumpulan data tersebut digunakan saat :
· Angket : digunakan bila responden jumlahnya besar, dapat membaca dengan
baik, dan dapat mengungkapkan hal – hal yng sifatnya rahasia.
· Survey : digunakan bila obyek penelitian bersifat perilaku manusia, proses
kerja, gejala alam serta jumlah respondennya kecil.
· Wawancara : digunakan bila ingin mengetahui hal – hal dari responden secara lebih
mendalam serta jumlah responden sedikit.
B. Teknik penyusunan instrumen penelitian
Dalam setiap penelitian yang bersifat empiris selalu dibutuhkan instrumen penelitian
yang terdiri dari daftar kuesioner (daftar pertanyaan), formulir tabulasi, dan formulir analisis.
Ketiga macam instrumen tersebut, harus dirancang dalam satu kesatuan. Sehingga dalam
proses penelitian para peneliti dapat bekerja dalam satu arahan yang terpadu. Diantara ketiga
instrumen penelitian tersebut, perancangan daftar kuesioner membutuhkan perhatian yang
lebih besar dibanding jenis instrumen penelitian yang lainnya. Mutu daftar kuesioner sangat
menentukan keberhasilan penelitian yang sedang dilakukan. Jenis instrumen lain
perancangannya menyesuaikan dengan struktur daftar pertanyaan yang dibuat. Keterpaduan
semua aspek instrumen diharapkan dapat menghasilkan instrumen yang baik dan memenuhi
tujuan penelitian tersebut.
Daftar kuesioner adalah serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden
guna mengumpulkan informasi dari responden mengenai obyek yang sedang diteliti, baik
berupa pendapat, tanggapn ataupun dirinya sendiri. Sebagai suatu instrument peneliian, maka
pertanyaan – pertanyaan tersebut tidak boleh menyimpang dari arah yang akan dicapai oleh
usulan proyek penelitian, yang tercermin dalam rumusan hipotesis. Oleh karena itu daftar
pertanyaan penelitian yang diajukan harus benar – benar bisa membantu dalam penyelesaian
tujuan dari penelitian. .
Pertanyaan yang diajukan oleh responden harus jelas rumusannya, sehingga peneliti
akan menerima informasi dengan tepat dari responden. Sebab responden dan pewawancara
dapat menginterpretasi makna suatu kalimat yang berbeda dengan maksud peneliti, sehingga
isi pertanyaan justru tidak dapat dijawab. Disamping itu harus pula diperhatikan kemana arah
yang dicapai, mengingat tanpa arah yang jelas tidak mungkin dapat disusun suatu daftar
pertanyaan yang memadai.
Seorang peneliti dalam menyusun daftar pertanyaan hendaknya memepertimbangkan
hal-hal berikut :
Apakah peneliti menggunakan tipe pertanyaan terbuka atau tertutup atau gabungan
keduanya
· Dalam mengajukan pertanyaan hendaknya jangan langsung pada masalah inti/pokok
dalam penelitian anda. Buatlah pertanyaan yang setahap demi setahap, sehingga mampu
mengorek informasi yang dibutuhkan.
· Pertanyaan hendaknya disusun dengan menggunakan bahasa Nasional atau setempat agar
mudah dipahami oleh responden.
· Apabila menggunakan pertanyaan tertutup, hendaknya setiap pertanyaan maupun
jawaban diidentifikasi dan diberi kode guna memudahkan dalam pengolahan informasi
· Dalam membuat daftar pertanyaan, hendaknya diingat bahwa anda bukanlah seorang
introgator, tetapi pihak yang membutuhkan informasi dari pihak lain.
Proses Perancangan Daftar Pertanyaan :
· Menyususun suatu rancangan daftar pertanyaan sebetulnya merupakan kerja kolektif
seluruh anggota team peneliti. Keterlibatan semua anggota team peneliti akan
memberikan konstribusu penyempurnaan kontruksi instrument penelitian.
· Berikut adalah langkah-langkah dalam menyusun daftar pertanyaan:
· Penentuan Informasi yang dibutuhkan
· Penentuan proses pengumpulan data
· Penyusunan instrument penelitian
· Pengujian instrumen penelitian
C. Langkah – langkah penyusunan instrumen penelitian
Dalam metode pengumpulan data sudah ditetapkan bagaimana data itu dikumpulkan.
Sekarang bagaimana caranya ? Untuk itu kita harus tetapkan instrumen-instrumen dari
metode yang ditetapkan tersebut
Misalkan sudah ditetapkan data dikumpulkan dengan cara menyebar angket atau
kuesioner. Untuk itu instrumen yang harus dibuat bisa berbentuk kuesioner terbuka,
tertutup, atau menggunakan checklist.
Langkah-langkah menyusun instrumen penelitian :
• Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian
•Menjabarkan variabel tersebut menjadi sub-variabel
• Menderetkan diskriptor dari setiap indikator
• Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
Kisi – Kisi instrumen
Contoh penyusunan Instrumen
Contoh Penelitian : Pengaruh Motivasi, Kemampuan dan Loyalitas terhadap Kualitas Kerja
Variabel penjelas (bebas) : Motivasi, Kemampuan, Loyalitas
Variabel Yang Dijelaskan ( Terikat ) : Kualitas Kerja

D. Pengujian Instrumen Penelitian
Sebuah instrumen dikatakan baik jika memenuhi dua kriteria sebagai berikut :
a. Valid
Valid adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat
ukur. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya
diukur. Analoginya misalnya meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang
dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut
menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Jadi hasil penelitian dikatakan
valid jika terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya
terjadi pada obyek yang diteliti.
b. Reliable
Reliable adalah keajekan (konsistensi) alat pengumpul data/ instrumen dalam mengukur
apa saja yang diukur. Instrumen yang reliabel maksudnya instrumen yang jika digunakan
beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Meteran
dari karet yang digunakan untuk mengukur panjang merupakan contoh alat ukur yang tidak
reliabel. Sebagian besar langkah – langkah yang dilakukan dalam suatu proses penelitian
adalah dengan mengumpulkan informasi. Informasi tersebut bisa didapat baik secara
langsung (data primer) maupun tidak langsung (data sekunder, tersier, dsb). Jadi hasil
penelitian dikatakan reliable jika terdapat kesamaan data pada waktu yang berbeda.
Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliable dalam pengumpulan data, maka
diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Jadi instrumen yang valid dan
reliable merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliable.
Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrument yang telah teruji validitas dan
reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliable. Karena hal tersebut
masih dipengaruhi oleh kondisi obyek yang diteliti, dan kemampuan orang yang
menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu, peneliti harus mampu
mengendalikan dan menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti.
Instrumen yang reliable belum tentu valid. Misalnya meteran yang putus dibagian
ujungnya, bila digunakan berkali – kali akan menghasilkan data yang sama (reliable) tetapi
selalu tidak valid, karena instrument tersebut sudah rusak. Reliabilitas instrumen merupakan
syarat untuk pengujian validitas instrument. Oleh karena itu, walaupun instrumen yang valid
umumnya pasti reliable, tepi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan, untuk
menambah keakuratan data. Selain itu Kriteria lain Instrumen yang baik adalah Kekuatan
penelitian bisa diketahui dari validitas baik internal maupun eksternalnya.
· Validitas internal adalah keyakinan terhadap hubungan sebab akibat atau pengaruh
dalam desain penelitian yang dilakukan.
· Validitas Eksternal adalah berkenaan dengan kemampuan digeneralisasinya hasil
penelitian pada lingkungan, orang, atau peristiwa lain.
Ancaman yang mempengaruhi validitas internal adalah history effects, maturity effect,
testing effect, instrumentation effects, selection effects, statistical regression, dan mortality.
Ancaman yang mempengaruhi validitas eksternal adalah perbedaan situasi lingkungan
penelitian, dan perbedaan subyek penelitian
Daftar pustaka
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta
http://www.uns.ac.id/data/0010.pdf.

By Aking Zerzawa

Askep CA’ MAMMAE

  1. A.  KONSEP DASAR MEDIS
    1. 1.     Pengertian

Ca. Mamae merupakan penyakit keganasan yang paling banyak menyerang wanita., disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertumbuhan sel tidak dapat dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor (kanker).

Kanker payudara atau ca.mammae adalah kanker yang berasl dari system kelenjar payudara,dapat mengenai kelenjarnya juga saluran kelnjarnya.

  1. 2.     Etiologi

Penyebabnya tidak diketahui,tetapi ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara.

Beberapa faktor resiko tersebut adalah :

  1. Riwayat pribadi tentang kanker payudara

Resiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1% setiap tahun.

  1. Usia

Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun.resiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun.

  1. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun; resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara langsung.

  1. menarke dini

Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun.

  1. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama

Wanita yang mempunyai anak pertama setelah  usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara disbanding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia 20 tahun.

  1. Menopous pada usia lanjut

Menopous setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami oovorektomi bilateral sebelum usia 35 tahun mempumyi resiko sepertiganya.

  1. Riwayat penyakit payudara jinak

Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel proleferatif memounyai resiko dua kali lipatuntuk mengalami kanker payudara; wanita dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini.

  1. Paparan  terhadap radiasi ionisasi masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun.

Pada keadaan ini beresiko hampir dua kali lipat

  1. Obesitas

Resiko terendah diantara wanita pascamenopouse. Bagaimanapun, wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian lebih tinggi, yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat.

  1. Kontrasepsi oral

Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun, resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi.

  1. Terapi penggantian hormone

terdapat laporan yang membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen suplemen dan menggunakan untuk jangka panjang (lebih dari 10 sampai 15 tahun ) dapat mengalami peningkatan resiko. Sementara penambahan progesterone terhadap penggantian estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium, hal ini tidak menurunkan  kanker payudara.

  1. Masukan alkohol

Sedikit resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alkohol tiga kali sehari. Dinegara dimanba minuman anggur dikonsumsi secara teratur (mis , prancis dan itali), angkanya sedikit lebih tinggi. Beberapa temuan riset menunjukkan bahwa wanita muda yang minum alkohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun – tahun terkhirnya.

  1. 3.     Tanda dan Gejala

Tanda yang dapat timbul pada penderita penyakit ini adalah :

ü Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan terfiksas

ü Nyeri di daerah massa

ü Perubahan bentuk dan besar payudara, Adanya lekukan ke dalam, tarikan dan refraksi pada areola mammae

ü Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit jeruk)

ü Pengelupasan papilla mammae

ü Adanya kerusakan dan retraksi pada area puting,

ü Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.

ü Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi

  1. 4.     Patofisiologi

Proses terjadinya kanker karena terjadi perubahan struktur sel, dengan ciri : proliferasi yang berlebihan dan tak berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi abnormal  sel kanker akan menggangu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimiawi  terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas diantara sel normal.

Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan cirri-ciri: proliferasi sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan sekitarnya.

Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:

1.    Fase induksi: 15-30 tahun

Sampai saat i9ni belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi factor lingkungan mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.

Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.

2.    fase in situ: 1-5 tahun

pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya ditemukan di payudara.

3.    fase invasi

Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe.

Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa tahun.

4.    fase diseminasi: 1-5 tahun

Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain bertambah.

  1. 5.     Penyimpangan KDM

 

 

  1. 6.     Komplikasi

Komplikasi utama dari cancer payudara adalah metastase jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang sering untuk metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang dan hati. Metastase ke tulang kemungkinan mengakibatkan fraktur patologis, nyeri kronik dan hipercalsemia. Metastase ke paru-paru akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru dan metastase ke otak mengalami gangguan persepsi sensori.

  1. 7.     Penatalaksanaan Medis

            Penanganan secara medis dari pasien dengan kanker mamae ada dua macam yaitu kuratif (dengan pembedahan) dan paliatif (non pembedahan)

Tabel Penanganan Cancer Mammae

Penanganan

Keterangan

Pembedahan (kuratif)

Mastektomi parsial (eksisi tumor local dan penyinaran)

Mastektomi total dengan diseksi aksila rendah

Mastektomi radikal yang dimodifikasi

Mastektomi radikal

Mastektomi radikal yang diperluas

Mulai dari lumpektomi (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena) sampai kuadranektomi (pengangkatan seperempat payudara), pengangkatan atau pengambilan contoh jaringan dari kelenjar limfe aksila untuk penentuan stadium; radiasi dosis tinggi mutlak perlu (5000-6000 rad)

Seluruh payudara, semua kelenjar limfe di lateral otot pektoralis minor

Seluruh payudara, semua atau sebagian jaringan aksila

Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor di bawahnya, seluruh isi aksila

Sama seperti masektomi radikal ditambah kelenjar limfe mamaria interna

Non Pembedahan (paliatif)

Penyinaran

Kemoterapi

Terapi hormaon dan endokrin

Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut, pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe, aksila, kekambuhan tumor local atau regional setelah mastektomi

Adjuvan sistemik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut

Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, progesterone, anti estrogen, ooforektomi, adrenalektomi, hipofisektomi

Pengobatan paliatf kanker payudara tidak dapat dijalankan menurut suatu skema yang kaku, selalu dipertimabngkan kasus demi kasus. Terapi kemoterap[I diberikan bila ada metastasis visceral terutama ke otak dan limphangitik dan jika terpai hormonal tidak dapat mengatasi atau penyakit tersebut telah berkembang sebelumnya, dan jika tumor tersebut ER negative.

 

  1. 8.     Cara pencegahan
    1. Kesadaran SADARI dilakukan setiap bulan.
    2. Berikan ASI pada Bayi. Memberikan ASIpada bayi secara berkala akan mengurangi tingkat hormone tersebut. Sedangkan kanker payudara berkaitan dengan hormone estrogen.
    3. jika menemukan gumpalan / benjolan pada payudara segera kedokter.
    4. Cari tahu apakah ada sejarah kanker payudara pada keluarga. Menurut penelitian 10 % dari semua kasus kanker payudara adalah factor gen.
    5. Perhatikan konsumsi alcohol. Dalam penelitian menyebutkan alcohol meningkatkan estrogen.
    6. Perhatikan BB, obesitas meningkatkan risiko kanker payudara.
    7. Olah raga teratur. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kurang berolah raga, semakin tinggi tingkat estrogen dalam tubuh.
    8. Kurangi makanan berlemak. Gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat meningkatkan risiko penyakit.
    9. Usia > 50 th lakukan srening payudara teratur. 80% Kanker payudara terjadi pada usia > 50 th
    10. Rileks / hindari stress berat. Menurunkan tingkat stress akan menguntungkan untuk semua kesehatan secara menyeluruh termasuk risiko kanker payudara.
  1. B.     KONSEP DASAR KEPERAWATAN
    1. Riwayat Keperawatan
      1. a.       Pengkajian
    2. Pola persepsi dan pemiliharaan kesehatan.

ü  Riwayat keluarga dengan kanker.

ü  Terpapar radiasi berlebih.

ü  Riwayat kanker rahim, kanker ovarium, kanker colon.

ü  Penggunaan alkohol.

ü  Rutin melakukan chek up, sarasi.

  1. Pola nutrisi metabolic

ü  Diet tinggi lemak.

ü  Penurunan nafsu makan.

ü  Muntah-muntah.

ü  Penurunan berat badan.

ü  Edema, ascites.

ü  Obesitas.

  1. Pola eliminasi.

ü  Darah pada feses/urine.

ü  Nyeri saat defekasi/berkemih.

ü  Konstipasi/diare.

ü  Distensi abdomen.

  1. Pola aktivitas-latihan.

ü  Kelelahan.

ü  Aktivitas terbatas karena nyeri.

  1. Pola tidur-isirahat.

ü  Gangguan tidur karena nyeri.

  1. Pola persepsi.

ü  Nyeri.

ü  Ketidaktahuan tentang proses penyakit.

ü  Ansietas/ketakutan.

ü  Rasa terbakar, gatas pada tulang.

ü  Pola persepsi-konsep diri.

ü  Malu, tidak percaya diri karena :

ü  Lesi seperti cacat.

ü  Jaringan peau d’orange pada payudara.

ü  Scan pada post operasi.

ü  Alopesia.

  1. Pola peran-hubungan sesama.

ü  Gangguan dalam melakukan perannya.

ü  Gangguan dalam interaksi sosial.

ü  Pola reproduksi-seksual.

ü  Menarche sebelum 12 tahun.

ü  Menopause setelah 50 tahun.

ü  Therapi hormon.

ü  Anak pertama lahir setelah 30 tahun.

ü  Tidak memiliki anak.

ü  Kontrasepsi oral.

  1. Pola koping-toleransi terhadap stress.

ü  Stress berlebih.

ü  Cara mngatasi stress : minum alkohol, rokok.

ü  Denial terhadap penyakit, putus asa.

ü  Menarik diri.

ü  Pola nilai kepercayaan.

ü  Mempersalahkan Tuhan.

ü  Lebih mendekatkan diri dengan Tuhan.

  1. 2.     Pemeriksaan Diagnostik
    1. Mamografi: memperlihatkan struktur internal payudara, dapat untuk mendeteksi kanker yang tak teraba atau tumor yang terjadi pada tahap awal.
    2. Galaktografi: mamogram dengan kontras dilakukan dengan menginjeksikan zat kontras ke dalam aliran duktus.
    3. Ultrasound: dapat membantu dalam membedakan antara massa padat dan kista dan pada wanita yang jaringan payudaranya keras, hasil komplemen dari mamografi.
    4. Xeroradiografi: menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor.
    5. Termografi: mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai ”titik panas” karena peningkatan suplai darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.
    6. Diafanografi (transimulasi): mengidentifikasi tumor atau massa dengan membedakan bahwa jaringan mentransmisikan dan menyebarkan sinar. Prosedur masih diteliti dan dipertimbangkan kurang akurat daripada mamografi.
    7. Scan CT dan MRI: teknik scan yang dapat mendeteksi penyakit payudara, khususnya massa yang lebih besar atau tumor kecil, payudara mengeras yang sulit diperiksa dengan mamografi. Teknik ini tidak bisa untuk pemeriksaan rutin dan tidak untuk mamografi.
    8. Biopsi payudara (jarum atau eksisi): memberikan diagnosa definitif terhadap massa dan berguna untuk klasifikasi histologi pentahapan dan seleksi terapi yang tepat.
    9. Asai hormon reseptor: menyatakan apakah sel tumor atau spesimen biopsi mengandung reseptor hormon (estrogen dan progresteron). Pada sel malignan, reseptor kompleks estrogen-plus merangsang pertumbuhan dan pembagian sel. Kurang lebih duapertiga semua wanita dengan kanker payudara reseptor estrogennya positif dan cenderung berespon baik terhadap terapi hormon menyertai terapi primer untuk memperluas periode bebas penyakit dan kehidupan.
    10. Foto dada, pemeriksaan fungsi hati, hitung sel darah dan scan tulang: dilakukan untuk mengkaji adanya metastase.

Laboratorium meliputi:

  1. Morfologi sel darah
  2. Laju endap darah
  3. Tes faal hati
  4. Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
  5. Pemeriksaan sitologik

Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluar sponyan dari putting payudar, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi

  1. 3.     Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data menurut Doengoes (2000) dan Brunner & Suddarth (1999), ditemukan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

1.Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor

  1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.
  2. Kecemasan     berhubungan             dengan perubahan   gambaran       tubuh
  3. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
  4. Kurangnya  pengetahuan  tentang  kondisi,  prognosis,  dan  serta  pengobatan  penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
  5. Gangguan  pemenuhan  kebutuhan  nutrisi  berhubungan  dengan  intake  yang  tidak  adekuat
  1. 4.     Intervensi
    1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor

Ditandai dengan :

DS : 

Klien  mengeluh  nyeri  pada  sekitar  payudara  sebelah  kiri  menjalar  ke kanan.

DO : 

Klien nampak meringis

Klien nampak sesak

Nampak luka di verban pada payudara sebelah kiri

Tujuan : Nyeri teratasi

Kriteria Hasil :

Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang

Nyeri tekan tidak ada

Ekspresi wajah tenang

Luka sembuh dengan baik

Intervensi :

  1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.

Rasional  :  Untuk  mengetahui  sejauhmana  perkembangan  rasa  nyeri  yang  dirasakan  oleh  klien  sehingga  dapat  dijadikan  sebagai  acuan  untuk  intervensi  selanjutnya.

  1. Beri posisi yang menyenangkan.

Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.

  1. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.

Rasional  :  Relaksasi  napas  dalam  dapat  mengurangi  rasa  nyeri  dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.

  1. Ukur tanda-tanda vital

Rasional  :  Peningkatan  tanda-tanda  vital  dapat  menjadi  acuan  adanya  peningkatan nyeri.

  1. Penatalaksanaan pemberian analgetik

Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.

  1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.

Ditandai dengan :

DS :

Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan.

Klien mengeluh badan terasa lemah.

Klien tidak mau banyak bergerak.

DO :

Klien tampak takut bergerak.

Tujuan : 

Klien dapat beraktivitas

Kriteria Hasil :

Klien dapat beraktivitas sehari6hari.

Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit.

Intervensi :

  1. Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin.

Rasional  :  Untuk  mencegah  kekakuan  sendi  yang  dapat  berlanjut  pada  keterbatasan gerak.

  1. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan

Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan.

  1. Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur.

Rasional  :  Untuk  menghindari  ketidakseimbangan  dan  keterbatasan  dalam  gerakan dan postur.

  1. Kecemasan      berhubungan             dengan           perubahan     gambaran       tubuh.

Ditandai dengan :

DS :

Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain.

Ekspresi wajah tampak murung.

Tidak mau melihat tubuhnya.

DO :

Klien tampak takut melihat anggota tubuhnya.

Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.

Kriteria Hasil :

Klien tampak tenang

Mau berpartisipasi dalam program terapi

Intervensi :

  1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.

Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.

  1. Diskusikan tanda dan gejala depresi.

Rasional  :  Reaksi  umum  terhadap  tipe  prosedur  dan  kebutuhan  dapat  dikenali  dan diukur.

  1. Diskusikan tanda dan gejala depresi

Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri,  takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahanO :

  1. Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya.

Rasional  :  membantu  dalam  memastikan  masalah  untuk  memulai  proses  pemecahan masalah

  1. Tinjau ulang efek pembedahan

Rasional  :  bimbingan  antisipasi  dapat  membantu  pasien  memulai  proses  adaptasi.

  1. Berikan dukungan emosi klien.

Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.

  1. Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.

Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.

  1. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

Ditandai dengan :

DS :

Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi.

DO :

Adanya balutan pada luka operasi.

Terpasang drainase

Warna drainase merah muda

Tujuan : 

Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil :

Tidak ada tanda -tanda infeksi.

Luka dapat sembuh dengan sempurna.

Intervensi :

  1. Kaji adanya tanda 6 tanda infeksi.

Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda 6 tanda infeksi sehingga  dapat segera diberikan tindakan yang tepat.

  1. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.

Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.

  1. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.

Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.

  1. Penatalaksanaan pemberian antibiotik.

Rasional  :  Menghambat  perkembangan  kuman  sehingga  tidak  terjadi  proses  infeksi.

  1. Kurangnya  pengetahuan  tentang  kondisi,  prognosis,  dan  serta  pengobatan  penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

Ditandai dengan :

DS : Klien sering menanyakan tentang penyakitnya.

DO : Ekspresi wajah murung/bingung.

Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.

Kriteria Hasil :

Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.

Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya.

Intervensi :

  1. Jelaskan  tentang  proses  penyakit,  prosedur  pembedahan  dan  harapan  yang  akan datang.

Rasional  :  Memberikan  pengetahuan  dasar,  dimana  pasien  dapat  membuat  pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi.

  1. Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang adekuat.

Rasional  :  Memberikan  nutrisi  yang  optimal  dan  mempertahankan  volume  sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan.

  1. Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat.

Rasional  :  Mencegah  membatasi  kelelahan,  meningkatkan  penyembuhan,  dan  meningkatkan perasaan sehat.

  1. Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak.

Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan  ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara.  Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada.

  1. Anjurkan untuk Mammografi.
  2. Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya / berulangnya tumor baru.
  3. Gangguan  pemenuhan  kebutuhan  nutrisi  berhubungan  dengan  intake  yang  tidak  adekuat

Ditandai dengan :

DS :

Klien mengeluh nafsu makan menurun

Klien mengeluh lemah.

DO :

Setengah porsi makan tidak dihabiskan

Klien nampak lemah.

Nampak terpasang cairan infus 32 tetes/menit.

Hb 10,7 gr %.

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria Hasil :

Nafsu makan meningkat

Klien tidak lemah

Hb normal (12 6 14 gr/dl)

Intervensi :

  1. Kaji pola makan klien

Rasional  :  Untuk  mengetahui  kebutuhan  nutrisi  klien  dan  merupakan  asupan  dalam tindakan selanjutnya.

  1. Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering

Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi  sedikit demi sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

 

Lowdermilk, Jensen (2007). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jogjakarta : EGC

Suddart Brunner (2009). Keperawatan Medikal Bedah Volume 4 Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Wiwik SEtiawati (2012). IlmuKesehatan . From http://kesehatan-ilmu.blogspot.com/2012/03/laporan-pendahuluan-ca-mamae-payudara.html. Diakses Pada Tanggal 3 Mei 2012

Nurse 87 (2011). Askep Ca Mammae. From http://nurse87.wordpress.com/2011/10/26/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ca-mamae/. Diakses Pada Tanggal 4 Mei 2012

David Yusuf (2011). Kumpulan Askep. From http://askep-topbgt.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-ca-mamae-kanker.html. Diakses Pada Tanggal 3 Mei 2012.

Ikbal Salwa (2009). Kanker Payudara (CA MAMMAE). From http://buku-sakuku.blogspot.com/2009/09/kanker-payudara-ca-mammae.html. Diakses Pada Tanggal 3 Mei 2012.

Budi Satria (2012). Askep ICU dan KGD. From http://asuhan-keperawatan-icu.blogspot.com/2012/01/asuhan-keperawatan-kanker-payudara-ca.html. Diakses Pada Tanggal 3 mei 2012.

By Aking Zerzawa